santai

May 11, 2009 § Leave a comment

  • Waktu zaman SMU saya pernah naksir satu orang cowok dan saat itu saya masih sangat ‘polos’ sehingga suka sekali menceritakan segala hal kepada teman-teman (segala means ‘all’). Apa yang terjadi? Saat pensi sekolahan, temen-temen yang telah saya percaya atas cerita-cerita tentang cowok itu manggung di atas pentas dan membawakan lagu ciptaan mereka sendiri yang berjudul nama cowok yang saya suka dan lirik lagu itu benar-benar obvious kalau si cowok itulah yang dimaksud
  • Waktu zaman kuliah salah satu teman saya yang memang punya otak super kreatif (dia kuliah di Arsitektur Parahyangan dan Interior FSRD ITB dalam waktu yang sama) melakukan aksi musuhan yang maha dahsyat selama 1 minggu hanya karena kejadian nggak penting. Aksi musuhan itu benar-benar menyiksa saya, karena biasanya kita bareng-bareng melakukan segala sesuatunya dan hebatnya lagi dia memusuhi teman-teman lain juga. Kami berusaha menganalisa kemarahan ‘aneh’ yang dilakukan teman saya tapi tak kunjung menemukan alasan jelas. Sampai pada suatu hari saat saya sedang duduk santai di kamar, dia masuk ke kamar saya sambil nangis-nangis dan menodong-nodong wajah saya, dan setelahnya she said, “April Mop!!” dan saya berpikir “WHAT THE F?!?! ALL THIS TIME?” setelah itu kami pun berteman lagi seperti biasa …
  • Waktu zaman SD saya adalah anak manis yang rajin mengerjakan PR dan rutin ke les mengaji setiap sore yang tidak pernah sanggup menyakiti orang lain apalagi marah-marah. Pada suatu hari teman sekolah saya salah paham soal jadwal piket, dengan sadisnya dia teriak-teriak kayak orang kemasukan setan dan marah-marah sama saya

Well …
Masih banyak lagi sih hal-hal yang menunjukkan betapa ‘santai’nya saya menghadapi segala sesuatunya apalagi kalau hal itu berasal dari faktor ‘eksternal’ : hal yang tidak bisa saya kendalikan;hal yang tidak bisa saya atur. Semenyebalkan apapun hal itu biasanya saya hanya diam, cuek dan melengos pergi. Makanya seumur hidup saya (seingat saya), saya nggak pernah ngomel/marah-marah/ngambek ke teman saya karena satu dan lain hal kecuali beberapa kali ngebully teman SMP saya karena tingkahnya yang super duper maniso (it’s Sulawesi’s languange). It’s just not in my blood, just not me …

Saya jarang terbawa perasaan menye-menye (been there, done that), saya jarang jadi ‘ingin’ marah kalau dikecewakan teman/sahabat (yah paling bergosip dikitlah ke teman yang lain), saya semakin jarang menunjukkan ekspresi sedih atau kecewa, saya menanggapi semua hal yang terjadi di sekeliling saya dengan santai dan tenang, saya akui saya memang semakin tidak pedulian …

Remember darlings …
Ignorance is a bliss

Mungkin itu sebabnya saya agak lempeng, kecuali dalam beberapa hal yang menyangkut hati. Biar bagaimanapun juga saya kan manusia normal …

Tapi kembali lagi ke prinsip dasar saya, kalau semua manusia itu memang berbeda dengan pola pikirnya masing-masing. Bukannya saya bilang orang yang mudah marah/ngambek itu jelek, mereka pasti punya latar belakang hidup sendiri yang membuat mereka menjadi seperti itu, atau mereka punya alasan amat logis untuk melakukan hal itu. Tapi saya cuma berterima-kasih karena Tuhan tidak memberikan DNA itu ke dalam tubuh saya sehingga saya jatuhnya cuek minta ampun. But’s it’s OK, I’m really gratefull for being me …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading santai at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: