jangan pernah mengaktualisasikan diri (hanya) untuk pengakuan

April 9, 2009 § Leave a comment

Dulu waktu saya masih SMA dan agak tolol,  saya memiliki obsesi aneh setiap semester 2. Saya mengharuskan diri saya untuk masuk ke 3 besar, dan untungnya hal itu selalu terjadi. Latar belakang di balik obsesi ‘mulia’ itu bukannya untuk membuat orang tua saya bangga, tapi tujuan utama saya adalah agar saya ‘tampil’ di setiap acara perpisahan senior, karena juara kelas di semester 2 akan diumumkan di atas panggung pesta perpisahan.

Well … saya memang norak, kampungan, dan terkesan sangat haus eksistensi. Memang! Saya tidak malu kok mengakuinya (sebenarnya malu luar biasa dalam hati). Tapi entah kenapa selain semester 2 saya tidak pernah ‘mendorong’ diri saya untuk masuk ke 3 besar (dan memang tidak pernah terjadi), rasanya nggak perlu dan nggak penting. Itulah contoh nyata dari kehidupan saya sendiri tentang betapa hausnya seorang manusia atas pengakuan dari orang lain.

Aktualisasi diri

2 kata yang saat ini semakin merongrong otak semua manusia di muka bumi ini. Ingin terlihat A, ingin terlihat B, ingin terkesan C, ingin terkesan D, ingin mencapai E, ingin mencapai F, ingin jadi seperti si G tapi harus terlihat berbeda and so on … and so on …

Tidak apa-apa, aktualisasi diri memang wajib dilakukan.
Karena tanpa aktualisasi diri, seorang manusia hanya akan menjadi onggokan daging bergerak yang menjalani hari tanpa tujuan dan menunggu untuk dipanggil sama Tuhan untuk balik lagi ke ‘rumah’.

Tapi ketika …
Aktualisasi diri = Pengakuan dari orang lain

Maka bentuk usaha aktualisasi diri ini menjadi rancu

Ingin terlihat A (agar si cewek yang selama ini jadi ‘rival’ sirik sama gue)
Ingin terlihat B (agar orang tua ada bahan cerita waktu arisan)
Ingin terkesan C (agar teman-teman bilang kalau gue ‘hebat’)
Ingin terkesan D (biar ditaksir sama cowok dari lantai VIII)
Ingin mencapai E (biar masuk majalah ini dan itu, dan jadi bahan liputan TV swasta ini dan itu)
Ingin mencapai F (biar orang-orang pada naksir sekaligus sirik sama gue)
Ingin jadi seperti si G tapi harus terlihat berbeda (biar gue masuk majalah sebagai 10 succesfull person under 27)

Well …
Dengan latar belakang aktualisasi diri untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain … apa yang kita lakukan akan memiliki pondasi yang sangat lemah. Karena kita melakukan hal yang kita lakukan, semata-mata agar ‘dipandang’ dan ‘dilihat’ sama orang lain. Ketika orang lain cuek, masa bodoh, atau memberikan pendapat yang buruk tentang kita, maka kita akan merasa sangat kecewa dan jatuh.

Kita menggambar bukan karena kita benar-benar suka menggambar, tapi agar dibilang jago gambar sama orang-orang. Kita jadi musisi dan membentuk band bukan karena kita benar-benar ingin bermusik, tapi agar dapat julukan rockstar. Kita memiliki banyak teman bukan karena kita benar-benar ikhlas berteman, tapi agar dicap anak gaul dst…dst.

Dengan usaha aktualisasi diri yang bertujuan (utama) mendapatkan pengakuan dari orang lain, maka usaha tersebut akan menjadi kurang ikhlas dan tulus. Sehingga hal yang kita lakukan pun akan gampang melempem, ketika orang-orang tidak lagi ‘melihat’ kita sama sekali karena satu dan lain hal. Inkonsistensi dalam berkarya pada umumnya karena ya … haus pengakuan ini.

Berbeda dengan usaha aktualisasi diri yang semata-mata dilakukan untuk kepuasan diri kita sebagai seorang individu. Apapun pendapat orang akan kita telan bulat-bulat dan dijadikan pembelajaran, karena pendapat orang lain bukanlah tujuan utama kita berbuat dan berkarya, it’s bigger than that.

Kita berbuat dan berkarya semata-mata untuk kepuasan diri sendiri. Dan pengakuan dari orang lain hanya akan menjadi bonus buat kita. Dimuatnya profil kita di majalah, dan jadwal interview sana sini juga hanya akan menjadi bonus buat kita. Kita berkarya dan berbuat karena kita terobsesi pada hal/bidang tersebut dan bukan semata-mata untuk mendapatkan tepuk tangan orang-orang sekitar.

Betapa menyenangkan bukan? Melakukan satu hal yang menjadi interest kita tanpa perlu mengkhawatirkan pendapat orang lain?

Lakukan saja apa yang sedang kamu lakukan dengan maksimal tanpa berharap dimuat di majalah atau diliput oleh stasiun TV swasta. Insyallah … hasil karya dan perbuatanmu akan menjadi lebih dahsyat. Amin …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading jangan pernah mengaktualisasikan diri (hanya) untuk pengakuan at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: