perempuan kota J butuh kompetitor bukan pasangan*

April 8, 2009 § Leave a comment

*Ungkapan emosional keluar dari mulut seseorang setelah mendengar sebuah kisah, dan ungkapan ini tanpa maksud menggeneralisasikan perempuan-perempuan kota J

Sebelum kamu mengerutkan kening tanda tidak setuju akan pernyataan di atas, maka bacalah 2 cerita di bawah ini :

1. Ketika seorang teman saya GR karena diajak check in

Alkisah seorang teman pria saya adalah pria yang sangat tampan dan berdomisili di kota B. Saat itu dia sedang dalam posisi available alias sedang tidak punya pacar dan sedang mencari-cari tambatan hati. Di tengah kesepian yang melanda dia mendapat telepon dari seorang teman lama (tentu perempuan) yang sudah lama tidak bertemu karena pindah domisili ke kota J setelah mendapatkan perkerjaan yang cukup menjanjikan di sebuah perusahaan multinasional. Saat itu teman pria saya senang sekali mendapat telepon tersebut, karena perempuan ini adalah jenis perempuan ‘tipe’ dia banget dan dulunya memang sempat ada percikan-percikan kembang api kecil di antara mereka.

Singkat cerita, setelah ngobrol basa-basi di telepon akhirnya si perempuan ini pun mengundang teman pria saya untuk datang mengunjunginya di hotel H yang terletak di pusat kota B (hotel ini nemiliki connecting dengan salah satu mall di kota tersebut. Cukup jelas kan lokasinya?) . Tanpa banyak tanya dan prasangka, teman pria saya pun berangkat ke hotel tersebut untuk mengajak perempuan itu jalan-jalan keliling kota B untuk bernostalgia.

Ternyata … oh ternyata, telepon perempuan tersebut adalah booty call. Teman pria saya dan perempuan itu malah menghabiskan malam itu di kamar hotel ‘saja’. Tentu saja teman pria saya pasrah dengan kejadian ini, namanya pria dikasih ikan tuna gratis ya dimakan dong! Setelah selesai, teman pria saya pulang dengan hati berbunga-bunga karena merasa telah mendapatkan tambatan hati baru.

1 bulan kemudian, setelah LDR melalui telepon dan sms. Teman pria saya memutuskan untuk mengunjungi pacarnya di kota J. Teman pria saya inipun menelpon saya untuk memberitahu kedatangannya agar nanti kami dapat berjumpa. Tapi di hari H, saya menerima telepon darinya kalau dia tidak jadi datang ke kota J karena pacarnya sedang sibuk berat. Dan hal ini pun terulang beberapa kali, setiap teman pria saya ingin datang berkunjung seketika itu pula pacarnya disibukkan oleh urusan ini dan itu.
Akhirnya kami sampai kepada kesimpulan kalau teman pria saya ini hanya untuk ‘dipake’ perempuan itu saat ada kerjaan di kota B. Oh …

2. Teman saya dan pacarnya yang seorang pengacara

Teman pria saya yang satu ini memiliki daya jual cukup tinggi dilihat dari latar belakang keluarga, akademis, profesi dan prestasi. Selama ini berkat daya jual tinggi yang dimilikinya, dia sama sekali tidak menemukan kesulitan yang cukup berarti saat ingin menaklukkan perempuan. Tapi ternyata dia belum kunjung menemukan apa yang dia cari selama ini yang entah hal apa …

Saya sendiri sudah lama tidak berjumpa dengan dia, tapi pada suatu hari tiba-tiba dia meng PING saya dan memberondong saya dengan pertanyaan “Sekarang pacaran ama siapa la? Kapan nikah? dsj … dsj…” dilanjutkan dengan curhat colongan olehnya. Intinya dia membeberkan pointers yang dia perlukan untuk mencari seorang istri. Yang kalau menurut saya pribadi, pointers dia itu cukup ribet dan susah untuk dipenuhi. Dasar makhluk picky!

Pada satu kesempatan kita bertemu di kota J. Dan dia pun bercerita panjang lebar tentang kehidupan dia yang sudah tidak saya ketahui khususnya persoalan relationship. Dia memulai ceritanya mengenai perempuan yang sempat dia pacari, sayang si mantan pacarnya ini adalah tipe perempuan yang ‘pasti’ menyenangkan saat diajak senang-senang, tapi luar biasa menyebalkan saat diajak ribet, susah, atau ngobrolin masalah. Akhirnya hubungan itupun berakhir.

Lalu dia lanjut mendekati seorang pengacara yang berdomisili di kota J. Dan disinilah pengeneralisasian perempuan-perempuan kota J dimulai. Teman saya ini adalah tipikal cowok kota B, yang kalau sedang suka dan naksir sama orang dia akan gas pol. Dia rajin sms dan telepon, sedangkan cewek ini adalah tipe cewek kota J tulen yang (pasti) merasa luar biasa terganggu dengan jenis perhatian seperti itu. Akhirnya setelah beberapa lama bertahan di situasi penuh perhatian, si pengacara ini pun menghilang dari kehidupan teman saya. Dan teman saya pun jadi pusing 7 keliling.

Dari 2 cerita di atas, berlanjut ke diskusi minim bobot dengan topik utama perempuan-perempuan kota J.

Kalau menurut teman saya di cerita No.2. Dia nggak akan pernah mau menikah dengan perempuan kota J, karena menurut dia perempuan kota J terlalu ambisius dan berorientasi ke karir. Berbeda dengan perempuan kota B yang senang dibelai dan disayang.

Lalu saya tangkis dengan, “Perempuan kota J bukannya ambisius, tapi mereka pada umumnya memiliki ‘their own thing’ untuk dijalani dan dikejar. Sehingga hanya pria-pria open minded dan memaklumi mereka yang bakal cocok. Mereka bukan hanya butuh belaian semata, mereka butuh merasa terbakar dan tantangan.”

Teman saya pun mengangguk-angguk penuh khidmat, “Iya juga sih … sebenarnya hal itu bagus. Tapi repot aja ngurusinnya. Gue males.”

Saya tangkis lagi, “Ya udah nggak usah memprospek perempuan-perempuan dari species ini. Gampang kan?”

Teman saya pun menutup obrolan ini dengan kalimat penutup maut, “Perempuan kota J nggak butuh pasangan mereka lebih butuh kompetitor.”

Saya pun diam seribu bahasa.

Apakah kebutuhan tinggi atas kompetitor itu benar adanya, ataukah perempuan kota J hanya perlu dimengerti dan dipahami saja soal ‘passion’nya masing-masing. Mereka juga merasa punya hak penuh  mengejar apa yang mereka mau, ini bukan soal emansipasi wanita lagi, tapi soal aktualisasi diri seorang manusia. Semakin banyak wadah yang bisa ‘unjuk gigi’ itu menunjukkan semakin banyak manusia yang ingin terlihat.

Dan itulah alasan … mengapa perempuan-perempuan ini (mungkin) ingin masuk ke pernikahan yang tidak akan mengurangi cahaya mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading perempuan kota J butuh kompetitor bukan pasangan* at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: