terlalu banyak melihat & meraba

March 20, 2009 § Leave a comment

Kalau kata orang tua tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, semakin banyak belajar, semakin tahu banyak hal maka akan semakin bagus. Tapi akhir-akhir ini saya merasa bahwa semakin saya tahu banyak hal, semakin saya ingin belajar banyak hal kadang-kadang kepala saya terasa terlalu penuh. Saya merasa berpikir setiap saat … bukan, bukannya saya sok pengen dibilang sebagai manusia ‘pemikir’ tapi dengan melihat dan menyerap terlalu banyak saya merasa harus selalu mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lain, merasa harus merencanakan kelanjutannya? Dan selanjutnya? dan selanjutnya setelah selanjutnya sebelumnya telah selesai.

Fase paling penuh yang saya rasakan dalam 24 jam adalah ketika saya menyetir pulang setelah seharian bekerja. Dalam perjalanan pulang yang memakan waktu kurang lebih 30-45 menit itu, selama 2 minggu terakhir ini saya selalu mendengarkan 3 lagu yang sama  yaitu Chasing Pavement- Adele, Lucky-Jason Mraz feat Colbie Calliat, dan Buka Mata Telinga Hati-Maliq & the essentials. Entah kenapa tiga lagu itu selalu berhasil membuat mood saya menjadi menyenangkan dan karenanya saya memutuskan akan terus mendengarkan ketiga lagu tersebut ketika menyetir pulang kantor sampai sensasi menenangkan itu hilang.

Back to the topic … fase penuh. Masa menyetir pulang kantor saya katakan sebagai fase paling penuh, karena saya pasti sibuk mereview kejadian yang telah terjadi dalam satu hari, setelah selesai akan ada ide-ide aneh (kata ide hanya agar terdengar agak ‘gaya’ saja) yang muncul, kadang ide tersebut absurd saking absurdnya saya bingung bagaimana cara merealisasikannya, kadang ide itu begitu jelas terlihat sampai-sampai saya tidak sabar untuk sampai di kamar kesayangan saya untuk segera mewujudkannya (sering diikuti rasa frustasi karena ternyata sulit), kadang saya berpikir tentang teman-teman di sekitar saya ada yang begini dan ada yang begitu, kadang saya berpikir “seandainya …” yang langsung saya usir dengan menggelengkan kepala kuat-kuat, kadang saya berpikir saya ingin menjadi seperti si A saya ingin menjadi seperti si B, saya ingin menjadi seperti si C dst … dst …

Sampai di Griya Bambu, saya langsung masuk ke kamar kesayangan melakukan ritual wajib lalu duduk termenung sebentar di depan TV (yang mati tentunya) lalu bertanya kepada diri sendiri, “Malam ini ngapain ya?”

Begitu seterusnya hari demi hari berlalu dengan malam panjang yang berakhir dengan pikiran-pikiran ini dan itu. Kapan ini dimulai? Sepertinya 4 bulan yang lalu, saat saya sudah menyadari konsep bahwa saya harus berusaha untuk mengisi piring saya sampai penuh. Tidak ada piring yang datang ke meja makan dan sudah terisi dengan makanan kesukaan saya, saya harus berusaha mengumpulkannya dari meja prasmanan yang satu ke meja prasmanan yang lain, bergegas agar saya tidak kehabisan sehingga pada akhirnya saya bisa menikmati semuanya dengan damai di meja makan. Piring saya sudah kelamaan kosong, saya hanya mengisi piring saya kadang-kadang saja ketika saya ‘sedang ingin’ dan saya sejujurnya tidak pernah memiliki bayangan pasti akan berisi makanan apa saja piring saya ini. Sekarang ketika saya tahu … saya pun seperti spon* yang menyerap hal-hal dari sekitar yang kira-kira memiliki koneksi yang signifikan dengan menu-menu impian saya di atas piring.

Tapi di beberapa titik waktu kadang saya merasa lelah, saat saya terlalu banyak melihat dan meraba hal di sekeliling yang saya sebutkan memiliki koneksi dengan menu impian saya. Saya menjadi bingung dan gamang ingin mengikuti jejak langkah siapa, ingin menjadi apa persisnya, ingin melakukan langkah yang mana dahulu? Rasanya cukup menyebalkan, tapi setidaknya lebih menantang daripada saya 8 bulan lalu yang cuma butuh sentuhan sayang dan merasa sudah sangat bahagia serta memiliki dunia. How stupid I was.

Lalu kemarin malam saya diberikan sebuah artikel yang berjudul ‘Hentikan upaya pembuktian diri’ oleh seorang teman. Setelah membaca artikel itu, entah di bagian tulisan yang mana (bodohnya, maafkan) saya merasa mendapat pencerahan dan ketenangan. Selama ini saya merasa penuh dengan terlalu banyak melihat dan meraba karena saya melakukannya sambil memikirkan pandangan, penilaian dan ekspektasi orang lain.

Menyenangkan orang lain memang penting
Tapi sebelumnya yang harus dibuat amat senang adalah diri sendiri, bukan orang lain …
Marilah menjadi spon* yang bijak
Yang hanya menyerap yang terbaik dan yang diperlukan saja

*)Quoted from a friend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading terlalu banyak melihat & meraba at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: