ketika usia sudah tidak berbicara banyak

March 18, 2009 § Leave a comment

Saya sudah mulai bekerja sejak April 2006, tapi saat itu pekerjaan yang saya lakukan lebih terasa seperti bermain daripada bekerja. Sehingga saya memutuskan dunia kerja sesungguhnya saya cicipi di November 2006, yang mana sampai detik ini ketika saya menuliskan tulisan ini saya masih berada di tempat yang sama.

Selama kurun waktu 2 tahun 4 bulan ini saya mempelajari banyak hal dari dunia kerja, hal-hal yang membuat saya menyadari hal-hal baru, bahkan ada beberapa hal yang amat krusial dan mempengaruhi pola pikir saya yang paling dasar.

Salah satunya adalah arti usia seorang manusia

Sebagai seorang makhluk Indonesia sejati, saya dididik untuk takut dan patuh terhadap orang yang lebih tua semenjak balita. Takut kepada orang tua, luar biasa ngeri dengan guru privat mengaji yang datang setelah adzan Magrib, patuh seperti kerbau yang dicocok hidungnya terhadap guru-guru di sekolah dst … dst …
Saya bukan bilang cara mendidik seperti itu jelek, tapi mendidik anak-anak untuk TAKUT terhadap orang yang lebih tua akan menghasilkan dampak psikologis dalam waktu yang cukup lama. Ada yang pada akhirnya terbebas dari perasaan takut kepada yang lebih tua karena kejadian tertentu, tapi tidak sedikit orang yang sampai dia dewasa pun tetap terdoktrin untuk takut dengan yang lebih tua.

TAKUT dan HORMAT memiliki persepsi yang sangat berbeda
Dengan takut, akan muncul perasaan yang tidak nyaman dan canggung untuk berekspresi serta menyuarakan pendapat
Sedangkan hormat membuat seseorang segan tapi tetap berani berbicara dan mengatakan salah apabila terjadi kesalahan

Awal saya bekerja di tengah orang-orang yang pada umumnya jauh lebih tua daripada saya, yang ada di pikiran saya adalah :
– Mereka pasti jauh lebih pintar daripada saya
– Mereka pasti jauh lebih berpengalaman daripada saya
– Mereka pasti jauh lebih percaya diri dalam melakukan segala sesuatunya

Tahun pertama berjalan, dan pola pikir saya masih seperti itu. Yang lebih tua adalah yang lebih hebat. Sedangkan saya sebagai yang masih muda, harus banyak belajar dan melihat apa yang dipikirkan serta dilakukan oleh yang lebih tua. Saya tidak boleh menyela pembicaraan mereka dan saya harus memperhatikan dengan seksama semua yang mereka katakan.

Lalu waktu terus berjalan, dan saya melihat banyak fakta di sekeliling saya yang perlahan-lahan membuka pikiran saya akan kedudukan usia ini. Dan ternyata, tidak semua yang lebih tua itu memiliki pemikiran yang dewasa, tidak semua yang tua itu lebih pintar daripada saya, tidak semua yang lebih tua itu lebih kreatif daripada saya, tidak semua yang lebih tua itu memiliki batin yang lebih kaya daripada saya, tidak semua yang lebih tua itu lebih daripada saya.

Karena ternyata kuat tidaknya karakter seseorang, dan bagaimana aura dia terpancar ke orang lain tergantung dari kualitas hati dan pikirannya. Usia nyaris tidak memiliki peran sama sekali. Pola pikir, attitude, cara memperlakukan orang lain, kepandaian, luasnya wawasan, dan sikap adalah kunci-kunci utama untuk pembentukan karakter diri. Apakah seseorang akan telihat dewasa atau kekanak-kanakan apakah terlihat bodoh atau pandai. Semuanya tidak diukur dari usia.

Ketika pemikiran itu sampai di otak saya … rasanya sangat lega. Saya lega dan saya merasa lebih bebas mengutarakan apapun yang saya mau selama itu masih dalam batas normal. Saya juga sudah tidak punya keragu-raguan untuk melakukan apapun yang saya mau (in a positive way of course), karena mungkin saja saya lebih pintar atau lebih berpengalaman dalam beberapa hal daripada mereka yang lebih tua. Semua hal bisa dilakukan asal ada keinginan, niat, dan usaha bukan cukup tidaknya usia.

Sekarang saya merasa bebas sekali melakukan apapun yang saya mau, yang penting saya menyukai, saya menikmati dan saya tidak menyalahi aturan apapun. Saya sudah tidak takut sama sekali dengan pendapat orang yang lebih tua. Salah benar itu relatif, baik buruk juga relatif tergantung kacamata yang digunakan. Saat ini saya sedang  mempercayai kedua tangan saya sendiri mempercayai pemikiran saya sendiri.

Soal bertambahnya usia,
Saya tidak pernah takut menjadi tua, asalkan saya menua dengan rekaman memori atas pencapaian, dan kebahagiaan
Saya tidak mau menua dengan sia-sia
Saya tidak mau menua dengan penambahan tahun hidup saja
Saya akan menua dengan cara yang saya sukai …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading ketika usia sudah tidak berbicara banyak at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: