tentang benda bernama handset

March 3, 2009 § Leave a comment

  • Waktu saya masih duduk di bangku SD sampai SMP saya anteng sekali tanpa HP, dan memang waktu itu belum ada yang memakai HP. Kalau mau janjian sama temen pasti pake telepon rumah, kalau udah pulang sekolah dan nggak kunjung dijemput sama Papa sampai sekolahan kosong langsung nukerin receh ke tukang bakso trus nelpon ke rumah pake telepon koin, waktu ada cowok PDKT nelponnya juga ke telepon rumah (yang pasti dibarengi rasa deg-deg-an saya karena bokap galak abis sekaligus rasa malas saya untuk menerima karena waktu itu saya belum puber), kalau mau nanyain PR atau ujian ke teman pake telepon rumah, mau ngegosipin banyak hal pake telepon rumah juga (jadi inget 2 jam telpon-telponan sama temen-teman cuma buat ngobrolin hal-hal nggak penting). Trus kalau kemana-mana bawa buku bacaan, jadi kalau emang harus menunggu dalam waktu yang cukup lama killing timenya dengan membaca.

  • Kelas 1 SMA mulai pake HP, waktu itu gue pakenya Nokia 5110 warna kuning. Waktu itu si 5110 ini lagi hype banget deh pokoknya hahahaha. Masa-masa itu anak-anak sekolahan belum banyak yang pake HP, jadi si 5110 ini lebih sebagai alat komunikasi gue sama nyokap dan keluarga, bahkan yang namanya fasilitas sms juga belum terlalu kepake. Waktu itu sms-an hanya bisa ke sesama provider, kalau lintas provider ya nggak bisa. Gue masih inget banget no GSM pertama gue, cantik banget deh 0816 420 2600 (sayang no ini beserta HPnya ludes dicolong orang L). Karena si HP ini penggunaannya belum maksimal jadi yang namanya telepon receh di meja umum kostan masih kepake banget. Gue masih inget banget tiap habis maghrib telepon receh di meja kostan gue nggak berhenti berbunyi. Si cowok A nelpon si cewek B, si cowok C nelpon si cewek D dst … dst. Waktu itu sampai ada antrian telepon dan durasi waktunya segala biar adil, jadi nggak ada yang berantem soal telepon J

  • Kelas 2 SMA si mama berbaik hati meng-upgrade si 5110 kuning saya menjadi 3110 warna abu-abu (yang lalu saya ganti casingnya jadi warna ijo, maklum … waktu itu saya sangat maniak warna ijo, sepakbola dan Michael Owen, kenapa 3 hal ini nyambung? Karena Michael Owen itu warna kesukaannya ijo. Norak banget ya). Waktu itu akhirnya muncul juga solusi untuk sms antar provider, waktu itu inovasinya bernama voucher Veronica (kalo nggak salah). Istilah voucher ini token, jadi tiap beli 20ribu dapatnya berapa token ya? Duh, lupa gue … pokoknya dengan adanya si Veronica ini ongkos yang dihabiskan untuk HP jadi lebih membengkak. Yang paling gue inget, kelas 2 SMA ini gue baru belajar yang namanya naksir-naksiran sama cowok a.k.a baru puber (telat amat). Jadi token Veronica gue semuanya gue habisin buat si cowok ini, dan begitu juga dengan dia J. Yang namanya sms an di zaman itu juga harus diperhitungkan banget, satu sms karakternya sedikit. Sms-an kita waktu itu lucu-lucuan ala ABG gitulah, trus kalo salah satu dari kita ngilang dari kegiatan sms-an pasti salah satu dari kita nelpon trus bilang “Tokennya udah habis ya? Isi lagi dong …”

  • Masuk ke dunia perkuliahan, benda yang namanya HP udah biasa banget. Bahkan sudah ada istilah ‘tidak bisa hidup tanpa HP’. Kalau keluar rumah dan lupa bawa HP pasti bela-belain pulang lagi ke rumah untuk ngambil HP. Pokoknya tanpa keberadaan HP rasanya hidup ini hampa, nggak bisa sms-an sama temen waktu lagi mata kuliah Mekanika Teknologi (blah), nggak bisa sms temen soal si dosen pembimbing udah ada di SPA (Studio Perancangan Arsitektur) atau belum, nggak bisa janjian makan siang di Warung Jepang sama temen, dsb … dsb. HP sudah jadi identitas personal, waktu itu kalau nggak punya HP rasanya norak … wong tukang foto copyan kampus aja punya HP. Jadi kalau anak-anak mau order foto copyan tinggal sms aja hahaha. Dengan HP juga gue bisa ‘ditemukan’ kembali sama cowok dari masa lalu. Akhirnya setelah sms-an non stop, beberapa kali kencan beramai-ramai dengan teman gue dan teman dia, kitapun jadian, via sms (huhu) karena waktu itu si cowok ini keburu berangkat sekolah ke Malaysia. Walaupun hubungannya singkat (banget) dan nyaris tanpa kesan (karena long distance) tapi kalo diinget-inget lucu juga, dari pertama kali saling ‘menemukan’ sampai putus semuanya dilakukan via HP.

  • Dan yang terakhir … tentu saja masa sekarang, masanya ‘maha Blackberry’. Semua golongan usia tersihir dengan keberadaan Blackberry, tadinya saya malah agak antipati karena pemahaman saya soal si Blackberry ini agak kolot dan out of date. Waktu awal-awal si BB ini ngetrend, yang gue tahu adalah BB diperuntukkan buat eksekutif-eksekutif super sibuk yang mobile sehingga mereka butuh feature-feature Blackberry yang emang ‘kerja’ banget.
    Tapi waktu gue sempet ngutak-ngatik punya temen dan keluarga, dan dapat cerita-cerita betapa ‘bahagia’nya memiliki BB saya pun tergiur untuk memiliki. Dan setelah BB ini ada di tangan, semua cerita ‘bahagia’ tentang BB ini benar adanya dan kepemilikan atas BB ini membuat saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa BB (kalau kata teman saya Crackberry, Bitchberry dsb … dsb).
    Ya seperti sekarang ini, ‘shit’ happens dan membuat saya tidak bisa bercengkerama lagi dengan si BB ini. Mau beli baru lagi kok rasanya masih masa berkabung ya (dia udah R.I.P) plus keadaan finansial saya yang sedang apes-apesnya L. Akhirnya sayapun kembali ke dunia GSM dengan hati miris. Kalau kata teman saya, “Ada bagusnya lo nggak punya BB, waktu lo jadi lebih produktif dan lo jadi ngelakuin hal-hal yang lebih penting” hahaha …

Pointnya adalah … semua ketergantungan ini memang berasaskan pada faktor ‘keterbiasaan’ semata. Udah biasa punya HP, udah biasa sms-an, dan udah biasa punya BB. Kalau kata ‘udah biasa’ telah terucap atau terpatri di kepala tandanya sudah kecanduan, rasanya hidup ini sudah timpang tanpa keberadaan satu benda itu. Aneh memang kalau dipikir-pikir, berarti kalau pintu Doraemon ada dan kita bisa kembali ke masa lalu, bisa aja kita menghapuskan masa awal perkenalan kita dengan benda bernama handset ini sehingga tidak ada kesedihan waktu si handset ini rusak, dicuri orang, atau R.I.P dengan tidak sopannya. Karena toh … kita memang tidak terbiasa dengan keberadaannya, karena kita belum menjadikan si handset ini sebagai comfort zone.

Benar kata teman saya, jangan pernah menjadikan satu hal atau satu manusia sebagai comfort zone. Comfort zone harus dibagi-bagi ke banyak hal dan jadikanlah diri sendiri sebagai comfort zone yang paling utama, jadikanlah ketergantungan kepada diri sendiri yang paling besar.

Last but not the least …

Saya teringat kata salah satu teman saya, “Untung ya La waktu pager masih merajalela belum ada trend emoticon ‘🙂’ atau ‘😦’. Kebayang nggak sih kita nelpon mbak operator pagernya trus bilang …
“Mbak, saya mau pager ke xxxxx isinya : Cepat pulang ya, gue masak cap cay nih buat kamu buka kurung, titik dua, strip, tutup kurung”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang benda bernama handset at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: