when "what was I thinking?" mode on

February 23, 2009 § Leave a comment

Pernahkah berada di situasi seperti ini

Jatuh cinta, berpacaran, menghabiskan waktu bersama, pertengkaran hebat, putus yang menyedihkan, masa pasca putus yang lebih menyedihkan lagi, pendinginan hati-pikiran dan lalu tiba di satu titik ketika memikirkan si mantan maka akan muncul pertanyaan “What was I thinking?”

Pertanyaan seperti ini terasa seperti hinaan luar biasa terhadap si X karena tiba2 kita (baca:saya) merasa semua ‘pengorbanan’ waktu, tenaga, dan uang itu ‘disia2kan’ untuk seseorang yang ‘kurang worth it’
Mungkin saja si X itu setelah ‘dipikir-pikir’ : kurang setara dengan gue/kurang pinter (isi otaknya kosong melompong)/manja menye-menye menyebalkan/tidak tough dengan hidup ini a.k.a pemalas/playboy cap karung teri and so on and so on

Yang mana semua kekurangan2 itu entah kenapa tidak terlihat sama sekali ketika masih dimabuk asmara, mata ini seperti ditutup dari semua keburukan yang padahal jelas2 TIDAK bisa diampuni sama sekali (misalnya : hobi nyolok sembarangan sana sini). Well … itulah kekuatan cinta yang maha dahsyat kawan, begitu sulit dilawan begitu sulit dicerna dengan akal sehat. Kalo kata buku <strong>5 cm</strong> (kalau belum membaca buku ini (anda payah! *maaf*) … saya sarankan segera melangkahkan kaki ke Gramedia untuk membeli), <em>gantungkan mimpimu 5 cm di depan mata agar mimpi itu terus terlihat</em> dan kalau untuk orang2 yang ‘nyaris’ dimabuk asmara padahal udah ngeh dengan keburukan2 tanpa ampun tadi, kata2 yang tepat adalah : gantungkan keburukan2 tanpa ampun dari (calon) pasanganmu agar tidak terlalu mabuk oleh cinta yang tidak masuk akal itu

Keburukan … keburukan …
Terdengar begitu buruk dan menyebalkan

Dan kenapa semua keburukan itu mesti terlihat setelah sekian banyak pengorbanan dan air mata buaya dari kaum hawa? Akh … crap. Kadang saya berpikir Tuhan begitu jahat membiarkan kita (baca:saya) terbenam di hubungan2 yang pada akhirnya membawa kita (baca:saya *lagi*) ke pertanyaan “WHAT WAS I THINKING?”

Dari sekian banyak hubungan2 melelahkan *jiji* yang saya jalani *iyuck!* saya sudah mendapatkan 2 hubungan yang membuat saya berakhir di pertanyaan “What was I thinking?” dan rasanya menyebalkan sekali. Seperti memakan habis satu piring ketupat dan opor ayam dengan nikmat, lalu baru ngeh kalo ketupat dan opor itu sudah basi dimakan waktu setelah mengalami mencret berkepanjangan yang menyakitkan. Ehm … maaf jika terlalu sadis. But it’s the true.

Biasanya penyadaran saya atas kemunculan pertanyaan itu timbul ketika saya mengalami broken heart (lagi) lalu melakukan contact dengan para X untuk sekedar kill my loneliness (maaf). Ada X yang membuat saya betah mengobrol lama karena dia lebih terasa seperti seorang teman lama yang menyenangkan (tentu saja untuk yang seperti ini tidak akan ada penyesalan), tapi ada juga yang rasanya ngobrol dengan anak kecil yang isi otaknya belum berkembang dan masih nggak ngerti hidupnya mau diapain + the menye2 part (oh it’s so annoying!) kalau yang seperti ini saya akan langsung bertekad untuk tidak melakukan contact lagi kalau nggak penting-penting amat (maaf sekali lagi, minal aidin wal faidzin).

Sekarang ini saya lagi deg-deg an apakah yang satu ini akan jadi bagian dari “WHAT WAS I THINKING?” atau tidak …

Hm … time will tell

Dan untuk X saya, mereka saya jamin tidak akan berpikir seperti itu terhadap saya ha2 … akh you wish!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading when "what was I thinking?" mode on at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: