si pintar dan si bodoh

February 23, 2009 § Leave a comment

Semua orang selalu ingin menjadi yang terpintar dan tidak ada yang ingin menjadi bodoh kecuali teman SD saya yang bernama Ferdy percaya atau tidak si Ferdy ini tidak naik kelas sebanyak 4 kali, sehingga sewaktu teman – teman cowok seangkatan saya kakinya masih mulus seperti kaki meja alias tidak berbulu, maka kaki Ferdy sudah seperti hutan amazon berikut margasatwa liar di dalamnya.

Untuk menjadi orang yang pintar dibutuhkan perjuangan dan juga pengorbanan, dari yang namanya belajar, membuat rangkuman sepulang sekolah, les ini itu, sampai menghafalkan perkalian 1 sampai 10. Tidak cukup itu saja untuk mendapat labelisasi pintar, seseorang tidak boleh ‘pintar’doang tetapi juga harus jadi ketua kelas seperti teman saya Imon, yang selalu jadi juara kelas dan ketua kelas sejak dia duduk di bangku SD sampai lulus SMP. Dan untuk prestasinya tersebut Imon selalu diingat sebagai Imon si anak pintar, tidak seperti teman saya yang selalu juara 2 sejak SD sampai SMP yang selalu diingat sebagai ‘the second place’ bukan si pintar.

Untuk urusan juara kelas dan jadi ketua kelas sebenarnya gampang, segampang lulus UMPTN yang soal – soalnya hanya berputar itu – itu saja dari tahun ke tahun. Tapi untuk pintar dalam urusan hubungan sesama manusia baik heterogen maupun homogen itu bukan persoalan gampang. Apalagi menghadapi kenyataan kalau dalam hubungan sesama manusia itu tadi harus ada yang pintar dan harus ada yang bodoh.

Keputusan tersulit adalah memutuskan siapa yang akan menjadi si bodoh.

Karena si bodoh ini adalah pihak yang dirugikan : diselingkuhi, diputuskan tanpa sebab, dianiaya, diporotin oleh pasangan matre, dibohongi bertubi – tubi, ditinggal nikah dengan anak juragan tanah, dikuras habis tabungannya and so on and so on …

Kalau membaca job description dari si bodoh, rasanya tidak akan ada satu manusia pun di dunia ini yang ingin menjadi si bodoh karena bisa dipastikan kalau dia akan sering sedih, mungkin sedikit menangis, dan menyia – nyiakan waktunya untuk orang dan aktivitas yang salah. Sebelum kamu yang membaca tulisan saya mengernyitkan kening dan menggeleng tanda tidak setuju akan teori ini, saya akan memaparkan beberapa fakta berikut :

  1. Saya punya seorang teman pria yang memiliki fisik menarik sebut saja Anto. Si Anto ini naksir dengan sahabatnya sendiri yang kita sebut Tila selama ± 3 tahun. Segala macam taktik PDKT sudah dijalankan oleh si Anto tapi Tila tetap tidak berkutik. Tila pun telah berpacaran dengan 2 – 3 pria lain sementara Anto tetap menunjukkan rasa sukanya. Anto tidak pernah ketinggalan untuk memberikan hadiah ulang tahun untuk Tila, dan tetap santai menyukai Tila walaupun sudah jelas Tila tidak tergerak hatinya untuk mencoba dengan Anto. Dari kasus ini jelas Tila si pintar dan Anto si bodoh.
  2. Sebut saja Nabil, berpacaran kurang lebih 1 tahun dengan pacarnya Dika. Kadang – kadang Nabil berpikir kalau rasa sayang yang dia punya untuk Dika terlalu besar. Kalau sedang berantem Nabil lebih sering berinisiatif untuk segera menyelesaikan, Nabil juga mengurangi waktu bermain dengan teman – temannya. Lalu pada suatu hari Nabil melakukan kesalahan yang sebenarnya kesalahan tersebut masih ada penyelesaiannya dan bukan jenis kesalahan berat seperti selingkuh. Tapi Dika tidak mau memberi maaf dan waktu melakukan perubahan diri sendiri untuk Nabil, Dika memutuskan Nabil dan langsung menghentikan komunikasi. Nabil yang hampir setiap malam menangis giat mengajak Dika balikan yang selalu ditanggapi dengan dingin oleh Dika. Untuk tangisan Nabil setiap malam Nabil adalah si bodoh dan Dika adalah si pintar.
  3. Tara sudah pacaran dengan Tommy selama 5 tahun. Tidak ada yang kurang atau salah dengan hubungan mereka selama ini, malam minggu yang hangat dan juga rutinitas nonton serta makan malam bersama selalu berjalan lancar. Tapi setelah memasuki tahun ke 3 Tara mulai bermain api dengan teman kantornya. Dan itu terus dijalankan oleh Tara sembari berpacaran dengan Tommy tanpa rasa bersalah. Sedangkan Tommy tetap adem ayem dan setia dengan Tara. Untuk rasa tidak bersalah Tara bermain api, jelas kalau Tara si pintar dan Tommy si bodoh.
  4. Jeri sudah siap menikah dengan Lina, bahkan mereka sudah melakukan pertunangan yang katanya sih ampuh untuk mengikat dua anak manusia sampai melakukan pernikahan (omong kosong). Kelemahan dari hubungan mereka adalah jarak, Jeri bekerja di Jakarta dan Lina di Surabaya. Jeri yang seperti lelaki pada umumnya tentu membutuhkan belaian wanita, bukan sekedar suara via telepon yang menemaninya tiap malam. Lalu ada tokoh ketiga bernama Ika. Ika yang memang menyukai Jeri tancap gas dan melakukan PDKT ke Jeri. Untuk kasus ini saya menyebut Ika adalah perempuan tidak tahu diri. Jeri pun tergoda ke Ika dan mulai memberi bagian hatinya untuk Ika. Jeri menjadi gundah dengan keberadaan dua perempuan di dalam hatinya. Sementara Lina nun jauh di Surabaya, tetap sabar dan setia menanti hari pernikahannya dengan Jeri. Untuk kasus ini Lina luar biasa bodoh dan Jeri luar biasa pintar sekaligus goblok, bukankan pria seharusnya bersyukur kalau ada wanita yang mau menikah dengannya?
  5. Adit dan Selly. Adit sangat amat cinta akan Selly, saking cintanya Adit menjadi sedikit protektif dan super aware dengan keberadaan pria – pria lain di sekitar Selly. Berkat kepandaiannya Selly mendapatkan pekerjaan di luar negeri, Adit pun semakin menggila dengan sifat protektifnya. Dia semakin sering mengontrol Selly via telepon dan sms, bahkan Adit mencoba me’ngikat’ Selly dengan mengajaknya tunangan yang mana ajakan ini langsung ditolak mentah – mentah oleh Selly. Akhirnya tanpa sebab musabab yang jelas Selly pun memutuskan Adit. Adit yang memang dasarnya cinta amat sekali terlalu langsung patah hati dan tidak ikhlas melepaskan Selly. Adit terus menelpon Selly setiap malam, dan juga masih mengucapkan kata – kata sayang sampai pada akhirnya Selly meminta Adit untuk tidak menghubunginya lagi. Anehnya Adit tetap sayang sama Selly, masih memanggilnya dengan sebutan ‘yayangku’ dan memajang foto berdua di screen saver handphone. Adit resmi menjadi si bodoh dan Selly si pintar.

Masih banyak sekali contoh di sekitar saya, tapi saat ini saya masih malas menuliskan semuanya. Contohnya banyak kok, dari yang masih usia ABG sampai yang bapak – bapak bulukan yang buncit, tuir, dengan dompet sedikit tebal yang menjadi si bodoh atau si pintar. Dan jangan dilupakan wanita – wanita dari yang punya fisik hancur, rata – rata, sampai di atas rata – rata yang juga berebutan untuk jadi si bodoh atau si pintar. Tapi sekali lagi saya tekankan, saya malas saja menuliskan semua kisah – kisah si bodoh si pintar ini karena bisa menghabiskan waktu saya yang amat sangat berharga ini. Lebih baik saya menghabiskan waktu berharga saya untuk menuliskan hal – hal lain yang lebih berbobot ya seperti saya ini*tsah! jijik*.

Kalau misalnya sekarang ini saya jadi agak – agak malas untuk mencoba lagi hal yang disebut hubungan antar manusia alasannya lebih kepada rasa malas untuk menjadi si pintar atau si bodoh. Untuk menjadi si pintar saya harus mengorbankan pasangan saya untuk menjadi si bodoh, sedangkan untuk menjadi si bodoh kayaknya saya sudah kehabisan stock hati untuk mengulangi lagi peran si bodoh.. FYI, peran si bodoh ini tidak gampang karena diperlukan banyak air mata, tindakan – tindakan bodoh untuk menaklukkan si pintar, banyak pulsa GSM/CDMA yang terbuang, waktu useless untuk melamun dan menyesal dst … dst.

Kenapa saya mengatakan kalau saya malas? Because it happens already, beberapa saat yang lalu setelah saya menjadi si single fighter seorang pria dari masa lalu yang tidak selesai melakukan komunikasi lagi dengan saya. Di masa lalu kami memang tidak bisa bersatu karena satu dan lain hal, dan saat ini ternyata menurut pengakuannya (yang mana sulit saya percaya) dia masih punya rasa yang sama … hahahaha bukankah ini sangat omong kosong? Dan saat terjadi obrolan – obrolan menjurus saya pun mengatakan, “
Kita terlalu enak ngobrol dan terlalu enak jadi teman, rasanya sayang sekali kalau pada akhirnya ada yang jadi si bodoh di antara kita berdua.”

Lalu dia membalas, “Tapi kan kita nggak akan tahu kalau kita nggak mencoba,”

“Kalau kita tetap nekat mencoba, maka kita akan tiba di satu hari dimana salah satu dari kita harus dinobatkan sebagai si bodoh. Dan saya tidak mau menjadi si bodoh, dan saya juga tidak tega untuk membayangkan kalau kamu harus jadi si bodoh.”

Selesai sudah. Semua hal memusingkan ini tentang siapa si pintar dan si bodoh benar – benar menguras energi saya. Karena suka atau tidak, percaya atau tidak, dan terserah kamu kalau mau menyangkal. Dalam semua hubungan antara manusia selalu ada si bodoh dan si pintar. Tidak mungkin kedua belah pihak adalah si bodoh, dan lebih tidak mungkin lagi kalau kedua belah pihak adalah si pintar. Seperti ilmu Yin Yang, inilah yang disebut keadilan oleh Sang Pencipta. And it’s called reality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading si pintar dan si bodoh at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: