masa SMP, pria tampan dan alis Krisdayanti

February 23, 2009 § 2 Comments

Kalau saat ini saya disuruh memilih untuk bekerja seperti sekarang ini atau kembali ke masa SMP di mana saya adalah sulung dari 4 bersaudara yang mana kerjaan saya setiap hari adalah membangunkan ketiga adik – adik saya (yang susahnya minta ampun) agar kami semua tidak terlambat berangkat ke sekolah dan lalu mengumpulkan mereka semua di saat jam pulang sekolah (belum lagi bonus dijemput ‘amat sangat’ terlambat yang selalu dilakukan oleh Ayah dan Ibu saya) maka saya akan memilih untuk kembali ke zaman SMP saya yang super hectic itu.

Kenapa?

Salah satu hal yang amat saya inginkan dari masa itu adalah, ketidakmauan, ketidakmampuan dan ketidakberanian saya untuk menyukai lawan jenis. Believe it or not, masa itu saya adalah cewek yang amat sangat cuek dan tidak pernah terpikirkan oleh saya sekalipun untuk menjalin hubungan dengan pria manapun itu. Entah kenapa, saat itu kegiatan berpacaran adalah salah satu hal yang paling menjijikkan buat saya hampir sama menjijikkannya dengan kecoa.

Salah satu contohnya adalah masa itu ada seorang cowok SMA tampan (sehingga dia tampak lebih mengerikan lagi buat saya) yang entah kenapa naksir sama saya yang saat itu jelas – jelas tidak memiliki daya tarik sebagai perempuan pada umumnya dengan tubuh kurus, kulit hitam karena sering main di pantai dan kacamata bulat berbingkai hitam ala Saras 008. But he likes me … a lot. Setelah itu dia pun mulai melakukan hal yang disebut sebagai kegiatan PDKT, hampir setiap malam dia menelpon saya menanyakan kabar, menanyakan saya sudah makan atau belum, dsb … dsb.

Dan untuk telepon – telepon rutin setiap malam itu, yang saya rasakan adalah kebingungan yang amat sangat. Mengapa? Menurut saya cowok ini sedikit gila karena dengan sukarela membuang – buang pulsa telepon rumah yang masih dibayarin sama orang tuanya untuk cewek yang jelas – jelas tidak dia kenal sama sekali. Apalagi setelah saya tahu kalau dia itu seorang model lokal dan punya mantan pacar yang cantik dengan alis ditato tinggi melengkung ala Krisdayanti. Kalau dibandingkan head to head dengan mantan pacarnya itu, saya seperti bocah ingusan polos yang masih bingung apa fungsi kondom sebenarnya.

Tapi cowok itu pantang menyerah dan tahan banting, dengan semua kejutekan dan kemalasan saya untuk mengangkat teleponnya dia tetap setia menelepon setiap malam dengan semua pertanyaan rutinnya yang amat membosankan itu. Dan hal itu berlangsung kurang lebih selama 3 minggu lamanya (itu juga kalau saya nggak salah).

Lalu pada suatu hari entah pemikiran jenius dari mana cowok itu ingin sekali bertandang ke rumah saya, yang mana bahasa gaulnya di masa itu adalah datang ‘mendarat’. Saya tidak tahu juga apakah cowok itu dianalogikan sebagai pesawat atau burung yang mendarat. Saya kaget setengah mati dan menahan dia sekuat tenaga untuk tidak datang ke rumah saya. Selain saya malas luar biasa untuk menemani dia ngobrol basa – basi di teras rumah yang banyak nyamuk sambil minum teh manis anget, saya juga sudah bisa membayangkan reaksi ayah saya yang pasti seperti kesambar gledek kalau anak gadisnya yang manis dan polos ini didatangi sama cowok SMA yang tampak sudah ber’pengalaman’ dalam dunia percintaan. Maka saya pun menentang keras acara ‘mendarat’ cowok ini di teras rumah saya yang sejujurnya tidak seberapa nyaman untuk semua kegiatan yang berhubungan dengan ‘mendarat’. Akhirnya dia menurut tapi dengan nada super kecewa.

Kalau kata anak – anak ABG zaman sekarang yang saya lakukan saat itu adalah permainan play hard to get. Tapi sumpah demi Allah dan semua hal di atas muka bumi, kalau saat itu saya memang tidak ingin berinteraksi dengan cowok yang punya niat lain selain berteman dan kebetulan cowok memang belum masuk kebutuhan pokok saya. Akhirnya setelah cowok SMA itu berusaha untuk mendapatkan saya selama 1 bulan lebih, akhirnya dia menyerah dan menghilang dari hidup saya. Kalau merunut pada teori play hard to get tadi yang seharusnya saya lakukan adalah cemas karena si cowok SMA itu tiba – tiba berhenti menelpon saya kemudian gantian menelponnya. Tapi hal itu tidak terjadi, saya malah merasa hidup saya jauh lebih tenang tanpa telepon – telepon dengan pertanyaan yang sama setiap malamnya. Satu bulan kemudian saya dapat kabar burung kalau si cowok itu balikan lagi dengan pacarnya yang punya alis ditato ala Krisdayanti. Good for them

Di masa SMP itu saya merasa jauh lebih independent daripada sekarang, saya benar – benar bergantung pada diri saya sendiri dan merasa kuat. Saya cuek saja melihat teman – teman cewek saya pacaran di malam minggu di pinggir pantai *alah!* dan juga kesana kemari naik mobil cowoknya yang dibeliin sama bapaknya untuk sekedar curi – curi kesempatan buat ciuman.

Saya benar – benar tidak merasa kalau cowok itu adalah sebuah kebutuhan, saya asyik dengan diri saya sendiri dan pertemanan saya. Saya bisa seharian asyik menggambar atau menonton MTV. Saya juga bisa asyik nongkrong di pantai sama adik saya yang sama phsyconya sambil ngalor ngidul soal guru matematika yang resenya minta ampun dengan cemilan pisang goreng dan sambel. Hidup saya waktu itu terasa amat lucu dan menyenangkan, minus semua hal yang berhubungan dengan lawan jenis dan perasaan ternyata segalanya terasa lebih baik.

Kalau dibandingkan dengan sekarang yang mana saya sudah menjadi seorang pekerja a.k.a kacung kampret a.k.a 9 to 5 PM person a.k.a gaji seadanya kerja kebanyakan a.k.a pembunuhan kreativitas massal, waktu luang adalah salah satu hal yang makin langka. Melihat kembali ke masa SMP, waktu luang saya sangat banyak tapi saya tidak pernah merasa resah karena saya tidak punya pacar untuk menghabiskan waktu luang saya yang luar biasa banyaknya itu.

Berbeda dengan sekarang dengan waktu luang yang amat sedikit, say this … saya bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 7 malam, lalu setengah jam untuk menyetir mobil pulang ke kost-an, lalu 1 jam untuk mandi dan kegiatan membersihkan wajah. Saya cuma punya waktu kosong sekitar 2 jam sebelum saya tidur. Tapi untuk 2 jam yang amat singkat itu, kadang – kadang saya merasa BT untuk menghabiskannya sendirian, saya kepengennya menghabiskan 2 jam saya yang amat berharga itu dengan pasangan saya, untuk bersenda gurau, mengobrol tentang hal kantor yang taik itu, lalu saling mengumbar rasa sayang kami dst … dst …

Kenapa saya tidak bisa tenang saja seperti dulu, yang mana saya bisa memiliki waktu luang sepanjang sore karena saya tidak ada les matematika atau mengaji, yang kemudian saya isi dengan mendengarkan radio atau merapikan koleksi buku cerita saya? Kenapa saya tidak bisa anteng saja merapikan krayon saya sesuai gradasi warna sambil mendengarkan kaset Spice Girls yang terbaru? Kenapa saat ini saya merasa kesepian apabila saya memiliki banyak waktu luang yang tidak bisa saya habiskan dengan seseorang yang disebut sebagai pasangan? Kenapa saya sudah memiliki tuntutan bodoh di dalam hati untuk memiliki pasangan? Kenapa saya tidak bisa lempeng seperti dulu dan tidak merasa kalau pasangan adalah sebuah kebutuhan? Kenapa saya tidak bisa tenggelam dan asyik dengan diri saya sendiri seperti dulu? Kenapa saat ini apabila ada seorang cowok yang melakukan PDKT ke saya maka lambat laun saya juga akan memiliki perasaan yang sama dengan dia? (dengan catatan dia masih masuk tipe saya loh, I’m not that slut! LOL)

Untuk semua pertanyaan saya di atas, saya cuma bisa menjawab dengan satu jawaban pasti. Saya menyesal untuk mencicipi apa itu rasanya memiliki pasangan dan bagaimana rasanya memiliki kupu – kupu yang beterbangan di dalam perut saat menerima telepon atau sms dari seseorang. Karena setelah merasakan itu, saya tidak bisa lagi bersikap cuek dan ‘sok’ tidak butuh sepeti perlakuan saya ke cowok SMA yang punya mantan dengan alis ala Krisadayanti. Saya sudah merasakan rasa ‘senang’ saat ada cowok yang memperhatikan saya. Dan sekarang saya sudah mulai menggolongkan perasaan saya itu ke petaka hidup. Petaka saat kecewa datang, petaka saat saya suka sama seseorang dan orang itu tidak menyukai saya, petaka saat ada cowok yang menghentikan kegiatan PDKTnya sama saya di saat saya sudah mulai berbunga – bunga dengan bodohnya, dan petaka saat saya diputuskan tanpa sebab oleh cowok yang masih saya sayang.

Untuk semua petaka itu, kadang – kadang saya berpikir seandainya saja saya tidak memiliki kebutuhan atas hal yang tidak pasti ini. Seandainya saya tidak pernah dan tidak mau untuk mencicipi hal itu. Mungkin sekarang saya akan aman dan baik – baik saja.

Persoalan pernikahan itu masalah gampang, toh Tuhan sudah memasang – masangkan semua ciptaannya kok. Bukankan bahagia sekali kalau tidak perlu mencicipi hubungan – hubungan yang salah alamat itu dan langsung bersatu dengan soulmate.

Ya … ya … saya tahu itu tidak mungkin.

Lagian masa SMP saya sudah lewat 9 tahun lalu, apalah yang bisa saya lakukan untuk kembali ke masa itu? Kecuali Doraemon dan pintu ajaibnya benar – benar ada.

Jakarta, 18 Aug ‘08

§ 2 Responses to masa SMP, pria tampan dan alis Krisdayanti

  • AceFlush says:

    I am truly thankful to the holder of this site who has shared this
    great paragraph at at this place.

  • Definitely believe that which you stated. Your favorite
    justification seemed to be on the net the easiest thing to be aware of.
    I say to you, I definitely get irked while people think about
    worries that they plainly do not know about.
    You managed to hit the nail upon the top as well as defined out the whole thing without having side-effects
    , people could take a signal. Will likely be back to get more.
    Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading masa SMP, pria tampan dan alis Krisdayanti at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: