best I ever had

February 13, 2009 § Leave a comment

Best I ever had : yang terbaik yang pernah dilewati/dijalani

Kenapa yang terbaik haruslah disadari ketika telah dilewati. Karena memang itulah kodrat manusia, menyadari bahwa satu hal adalah yang terbaik atau seseorang adalah yang paling tepat ketika masa itu sudah selesai atau tamat.

Well have you been there?
For me … never been there

Sejauh ini, jika saya berpikir tentang hal-hal yang telah lewat ada beberapa masa yang saya ingat sebagai ‘best moment’ antara lain masa SMP saya yang lumayan brutal, masa kelas 2 SMA saya di Bandung yang mana saya adalah siswa hiperaktif yang pontang-panting ikutan organisasi sana sini sekaligus jadi ketua buku tahunan, lalu masa-masa saya mengenal dunia broadcast. Tapi mereka juga tidak bisa saya kategorikan sebagai ‘best I ever had’ moment.

O ya! Ada satu moment yang pernah saya ‘kira’ sebagai best I ever had
Waktu pertengahan kuliah saya pernah mengirimkan sms ke pacar saya “You’re the best I ever had” padahal saat itu status cowok itu adalah pacar kedua saya (baca: pacar pertama ‘beneran’). Lalu setelah putus sayapun tetap mengukuhkan dia sebagai ‘best I ever had’, kemudian kehidupan terus bergulir yang mana ada beberapa orang yang singgah di hidup saya lalu pergi dengan cepat, dan ada juga yang singgah lalu tetap bersama saya sampai sekarang. Dan seiring berjalannya waktu sms “You’re the best I ever had” sayapun terasa seperti sebuah kebodohan besar, karena sekarang kalau saya ingat-ingat he’s not the best I ever had … he’s just … a ‘so-so I ever had’

Lalu berjalanlah beberapa hal lagi … berakhir … lalu menjalani lagi yang lain … berakhir …
Dan sampai detik ini THANKS GOD saya belum menemukan best I ever had itu di siapapun. Well … butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa memutuskan apakah yang sudah terlewati itu merupakan best I ever had atau tidak. Karena biasanya manusia yang masih di masa kritis/pasca masa kritis masih sulit menggunakan akal sehat dan logikanya dalam berpikir, emosi dan kebodohanlah yang berkuasa di fase ini.

Atau mungkin juga best I ever had itu tidak akan pernah muncul, karena setiap menyelesaikan satu fase (entah dengan cara yang sopan atau tidak sopan) saya melangkah ke anak tangga yang selanjutnya, mulai membuka lagi pintu-pintu lain yang tadinya masih tertutup, mengikuti berbagai ujian yang cukup sulit dan akhirnya naik kelas dengan nilai raport yang cukup membanggakan. Sehingga ketika saya iseng melangkah mundur ke anak tangga sebelumnya untuk membuka tumpukan album tua saya, sayapun merasa ‘tidak pantas’ atau ‘terlalu pandai’ untuk berada di anak tangga itu lagi. Cukup menyebalkan memang … tapi itu yang saya rasakan

Mungkin hal ini juga yang bikin saya agak bingung dengan teman-teman saya yang bolak balik blekok sampai bengkok dengan pasangannya masing-masing. Apalagi yang sudah lama berpisah, menjalani kehidupan masing-masing, dan ‘tumbuh’ menjadi manusia baru yang berbeda. Ketika mereka tiba-tiba dipertemukan lagi oleh nasib mereka pun saling menyayangi lagi, lalu kembali bertengkar dan berseteru untuk persoalan yang sama.

Pertanyaan saya … apakah mereka berdua memang merasakan bahwa moment mereka adalah ‘best I ever had’ ataukah mereka memang tidak berusaha belajar dengan baik dan lulus ujian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading best I ever had at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: