open minded, little thing that so hard to do

October 31, 2008 § Leave a comment

Berbicara tentang open minded, terdengar seperti hal kecil yang mudah dilakukan. Tapi dalam praktek kehidupan sehari-hari, open minded adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

“Hah? Lo suka sama band A?! Kok bisa sih?!”
“Serius lo pengen nonton film A?! Itu kan nggak mutu banget!”
“Ya ampun … hari gini lo masih pake sepatu itu? Udah nggak zamannya lagi!”
and so on … and so on

Komentar-komentar spontan yang dilontarkan kepada orang lain karena kesukaan mereka akan sesuatu hal yang tidak cocok dengan selera kita. Padahal apalah hak kita ‘memaksa’ orang lain agar seleranya sama dengan kita? Tuhan saja tidak memaksa semua umatnya untuk menyukai satu hal sehingga terjadi keseragaman. Bukankah keberagaman dan perbedaan selera itulah yang membuat hidup ini menarik.
Jika semua orang menyukai U2 dan tidak ada yang menyukai Hillary Duff bukankah industri musik dunia akan sangat membosankan? Jika semua orang menyukai film-film indie ‘berbobot’ dan tidak ada yang menyukai film-film blockbuster bukankah industri film akan menjadi sangat ‘garing’?

Dengan memberi komentar miring atas selera seseorang, secara tidak langsung kita menilai diri kita ‘lebih tinggi’ atau ‘lebih oke’ atau ‘lebih keren’ dari orang tersebut. Dan siapalah kita? Sekeren apapun kita (tsah), kita tetap tidak punya hak untuk menilai orang lain atas seleranya atas hal.
Bahkan ada juga orang ‘awam’ ‘biasa aja’ ‘ga expert2 banget’ menghina orang lain atas kesukaannya ke sebuah hal. Well … who the hell are you?!

Dulu saya bukan orang yang open minded … well sekarang juga belum tentu. Saya cenderung tidak menyukai orang-orang yang seleranya terlalu ‘perempuan’ entah kenapa menurut saya ganggu aja. Egois sekali bukan? Tapi setelah berpikir dan melakukan pembicaraan mengenai open minded dengan beberapa orang, saya menjadi malu dengan diri saya sendiri. Siapalah saya yang berani men-judge perempuan yang amat ‘perempuan’ itu? Itu kan hak mereka untuk menjadi apapun yang mereka mau. Dan saya juga punya hak sendiri untuk menjadi apapun yang saya mau. Sebenarnya semua punya jalurnya masing-masing sih … so why I care?

Pentingnya open minded saya sadari 2 hari yang lalu. Saat saya melakukan obrolan malam dengan salah satu sahabat saya. Kami berbincang tentang Rihanna (buat yang nge fans dengan Rihanna no hard feeling ya)
Saya ingin mengenalkan sahabat saya ini dengan seorang perempuan, dan kebetulan perempuan ini bersemangat sekali ingin menonton konser Rihanna. Dan menurut pendapat salah satu teman saya, perempuan yang ingin saya kenalkan ke sahabat saya kurang match karena selera musiknya tidak sama. Ya .. bisa dibilang sahabat saya ini cukup punya posisi di dunia musik indie Indonesia (maaf ya untuk mengatakan ini). Tapi tanggapan sahabat saya ini cukup mengguncang saya dan mengetok keras otak saya untuk segera melakukan OPEN MINDED ACTION IN EVERY SECTOR OF LIFE …

Ini kutipan tanggapan sahabat saya

Ya gpplah emang apa yang salah dengan Rihanna? Untuk apa gue kenal sama cewek yang katakanlah selera musiknya OK banget tapi orangnya nggak asyik dan nggak menyenangkan, nggak guna juga …

Hahahahahahaha … bener banget sih lo!
So, starting today …
I’ll try hard to become an open minded person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading open minded, little thing that so hard to do at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: