//

March 23, 2015 § Leave a comment

Pyramid-of-Capitalist-System-Infographic

Your Kid Could Not Do This

March 22, 2015 § Leave a comment

Cy Twombly

 One could say that any child could make a drawing like Twombly only in the sense that any fool with a hammer could fragment sculptures as Rodin did, or any house painter could spatter paint as well as Pollock. In none of these cases would it be true. In each case the art lies not so much in the finesse of the individual mark, but in the orchestration of a previously uncodified set of personal “rules” about where to act and where not, how far to go and when to stop, in such a way as the cumulative courtship of seeming chaos defines an original, hybrid kind of order, which in turn illuminates a complex sense of human experience not voiced or left marginal in previous art.

Kirk Varnedoe thought it necessary to defend Twombly’s seemingly random marks and splashes of paint against the criticism that “This is just scribbles – my kid could do it”.

Ekosistem

March 6, 2015 § Leave a comment

Akhir pekan kemarin saya dirundung rasa bosan kemudian memutuskan untuk makan bebek goreng lalu mengunjungi paviliun teman saya yang kebetulan letaknya tidak jauh dari lokasi tempat tinggal saya. Sejak pertengahan tahun 2014 dengan sengaja saya mengurangi frekuensi keluar rumah untuk hal-hal yang bersifat hiburan atau rekreasional untuk menghemat energi, waktu, dan uang atas pengeluaran yang tidak perlu.

Teman saya sedang menyelesaikan aplikasi beasiswa yang harus dia kirim hari itu, saya pun memutuskan untuk bekerja juga di laptop yang untungnya saya bawa karena tidak mau mengganggu dan memang ada beberapa hal yang sudah melewati tenggat waktu. Kami bekerja dalam diam, kebetulan kami berdua pendiam, syukurlah.

Setelah agak rampung kami pun berbincang tentang macam-macam, kisah cinta yang kusut dan tanpa solusi, hubungan suami istri yang susah dipercaya keberadaannya, lokasi restoran bebek yang sedap, buku, film, malam penghargaan Oscar, dan sejenisnya.

Di tengah pembicaraan teman saya menceritakan tentang seniman yang baru saja dia wawancara untuk majalah tempatnya bekerja. Dia menyukai karya dan pemikiran seniman tersebut, saya pun menanyakan seniman-seniman lain yang dia sukai. Teman saya diam sejenak lalu menyebutkan beberapa nama. Seniman yang ia sebutkan memiliki semacam benang merah: non linear, ethereal, self-discovery, dan cenderung abstrak. Kemudian kami pun berbincang-bincang tentang hubungan antar manusia yang kusut kembali. Betapa fana hal-hal yang membuat perselisihan dan pengkhianatan terjadi dan seterusnya. Sambil menceritakan hal-hal fana tersebut otak saya berpikir keras, siapakah seniman yang benar-benar saya sukai? Beberapa nama muncul di dalam kepala saya. Dan mereka semua tidak memiliki mood berkarya yang sama. Ada yang jalanan sekali bahkan cenderung “kampungan”, ada yang halusinasi tingkat tinggi, ada yang sibuk mengupas kesedihan, ada yang dekonstruktif, random seperti keputusan-keputusan hidup dan kegiatan saya sehari-hari. Saat saya mengutarakan beberapa nama ini, teman saya memang tidak merasa ada benang merah pada nama-nama seniman yang saya sukai, namun teman saya berpendapat seharusnya ada benang merah yang bisa ditemukan kalau diteliti kembali satu persatu. Karena kelaparan kami menghentikan obrolan dan berkendara ke daerah pejaten untuk makan malam, setelah menatap menu selama kurang dari 5 menit teman saya memutuskan makan bebek bangkalan sedang saya makan nasi rawon.

Di perjalanan pulang yang macet karena kebetulan malam Minggu. Otak saya terus berpikir mengenai kesukaan akan suatu hal entah buku, film, musik, dan seni pada setiap individu sebenarnya merupakan refleksi dari dirinya. You are what you love. Untuk musik saya bisa merasakan benang merahnya, segala yang menerawang, tidak terlalu berisik, dan membuat tenang. Untuk buku lumayan ada benang merah. Untuk film dan karya seni tidak, benar-benar random. Sedangkan teman saya selera buku dan seni cukup berkesinambungan, ia memiliki kecenderungan yang cukup spesifik. Lalu saya teringat teman saya yang cuma menyukai karya-karya idealis dan non komersil, pokoknya semua kreator yang masuk kategori underdog dia suka. Ada lagi teman saya yang menyukai segala sesuatu yang bersifat popular. Adik saya menyukai semua yang berangkat dari teknik dan tidak menghiraukan konten. Teman saya terobsesi pada semua yang berbentuk kerajinan tangan, semakin rumit dan semakin lama waktu yang diperlukan untuk membuat sebuah benda maka semakin kagumlah ia kepada pembuatnya. Dan seterusnya tidak akan berhenti.

Tepat di lampu merah McD yang chaos saya tiba pada kesimpulan yang lahir secara tidak sengaja. Entahlah, apa karena mobil di belakang saya yang tidak kunjung berhenti membunyikan klakson atau pengendara motor yang tidak sabar menunggu lampu hijau dan memutuskan jalan terus walaupun lampu lalu lintas masih merah. Bahwa semua hal yang ada di muka bumi ini adalah sebuah ekosistem raksasa layaknya yang dimiliki oleh hewan dan alam  (sesuatu yang pernah kita pelajari dalam pelajaran Biologi). Untuk mencapai keseimbangan ekosistem tersebut haruslah lengkap terisi, setiap peran mesti dilakukan dengan total. Karena jika tidak akan terjadi chaos. Tidak ada yang lebih baik atau kurang baik, semuanya yang ada hari ini, semua profesi, semua jenis manusia, yang berkarya dan tidak berkarya, yang bekerja dan tidak bekerja, yang berkeluarga dan tidak berkeluarga, yang beragama dan tidak beragama, yang karyanya komersil dan yang idealis, yang beranak dan tidak mau beranak, yang gemar bersosialisasi dan gemar sendirian,yang aktif social media dan benci social media, yang mengikuti politik dan mengacuhkan politik, setiap jenis memang sudah semestinya ada atas nama keseimbangan. Dalam dunia binatang mereka dimudahkan dengan bentuk yang berbeda-beda satu sama lain, sedangkan manusia lebih sulit dibedakan karena secara bentuk yang serupa. Pilihan hidup yang membedakan satu manusia dan yang lain. Pilihan tersebut yang membuat manusia memiliki keberagaman yang jauh lebih kompleks daripada hewan, tidak akan pernah bisa diseragamkan apalagi dipaksa seragam.

Jika saya tarik ke profesi yang saya lakukan sekarang, yaitu membuat sesuatu dari nol.

Apapun yang saya buat dan lakukan sekarang adalah refleksi diri saya, saya turut berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang maha besar dengan menjadi satu titik organisme yang berupa diri saya sebagai individu. Begitu juga dengan kamu. Apapun bentuk dan peranmu di dalam ekosistem lakukanlah dengan sejujur-jujurnya tanpa merasa lebih baik atau lebih kurang dari titik-titik organisme lain yang kebetulan berbeda.

_

THEOREM, 6 Maret 2015.

10 BUKU YANG MENEMANI 2014

January 7, 2015 § Leave a comment

1

Steal Like an Artist by Austin Kleon
I’m not a fan of self-help and how-to kind of book, I personally think those kind of book are lame and not even helpful, and that’s what I thought about this book until he bought one from his exhibition trip and pursuit me to … at least read 1 or 2 pages. Turns out I really love this book. Very straight to the core, amazing quotes, and with so many reliable wisdom. I can feel my head nodded a couple of times when I reading it. And believe me the whole content it’s related on LIFE not just for artists. Also Kleon’s writing style is very humble, simple, and friendly. It’s like reading one of your trusted friend’s journal.

My favourite line:

Take time to mess around. Get lost. Wander. You never know where it’s going to lead you.

Don’t worry about unity from piece to piece – what unifies all of your work is the fact that you made it.

If you have two or three real passions, don’t feel like you have to pick and choose between them. Don’t discard. Keep all your passions in your life. Let them talk to each other. Something will happen.

You learn that most of the world doesn’t necessarily care about what you think. It’s not that people are mean or cruel, they’re just busy. Do good work and share it with people.

2

Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer
Saat ini saya sedang membaca Jejak Langkah dari Pramoedya Ananta Toer. Buku ke-3 dari tetralogi Buru, yang membuat saya mengingkari kalender baca yang sudah saya buat di awal 2014. Semestinya yang saya baca bulan ini adalah Alain de Botton namun efek Bumi Manusia (buku pertama Tetralogi Buru) ternyata menyita perhatian sekali dan membuat saya jadi tidak sabar mengetahui lanjutannya.

Pram memiliki cara yang unik menyuntikkan sejarah dan nasionalisme ke pikiran pembacanya, karakter Nyai Ontosoroh, Minke, Darsam, Annelies, dll. seakan memang nyata adanya dekat, dan kita kenali dalam kehidupan sehari-hari. Kalau memang ada kewajiban membaca buku di sekolah-sekolah rasanya Tetralogi Buru ini wajib ada di urutan pertama karena masih terasa relevan hingga sekarang, baik itu kelebihan atau kekurangan orang Indonesia, nasionalisme, feodal berbalut kapitalisme, kepemimpinan, dan hal sederhana seperti membedakan baik dan benar atau mendengarkan hati nurani.

Ah, terlalu sempit medium caption foto ini untuk menceritakan efek Tetralogi Buru. Saya pun merasa terlambat baru membaca karya tetralogi ini sekarang.

3

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas oleh Eka Kurniawan
Ada rona merah yang hilang kewarasannya, Si Tokek yang bersumpah tak akan menikah sampai burung sahabatnya berdiri lagi, dan Ajo Kawir yang kemaluannya tak kunjung bangun.

Dibaca pelan-pelan, kisah-kisah ini merasuki jiwa, membuat bertanya-tanya, “Apa itu maskulinitas?” dan “Bagaimana cara cinta bekerja?” dalam cara yang cuma Eka Kurniawan yang bisa menuturkan.

Foto: Gacanti Swastika untuk Lemari Buku

 

Maya karya Ayu Utami
Ayu Utami adalah salah satu penulis yang saya amini dalam-dalam. Setiap kali mendengar kabar ia menelurkan karya baru, tanpa ragu saya akan menuju ke toko buku terdekat dan membeli bukunya. Untuk tenggelam, dalam sekali di dalam kisah yang ia ramu. Untuk karya ‘Maya’, saya merasa Ayu Utami dengan sengaja menyuntikkan agenda personal terkait dengan Pemilu 2014. Dirilis beberapa bulan sebelum Pemilu (entah disengaja atau tidak) di dalam buku ini Ayu Utami sibuk mengingatkan luka-luka masa lalu yang telah dialami oleh Indonesia, khususnya kejadian 1965. Walaupun agenda itu terasa ia terhitung sukses dalam misinya tersebut, dibalut dengan nuansa mistis yang kental, ‘Maya’ menyentil rasa kemanusiaan dan kesadaran pembacanya, mengingatkan akan mereka yang mungkin terlihat kecil dan tidak berdaya namun memiliki hak atas pemikiran dan kekuatan untuk bertindak. Belum lagi kisah cinta tidak wajar yang ia bubuhkan sebagai benang merah, cacat tidak selalu buruk dan keindahan tidak selalu indah.

4

Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer dan Rumah Kopi Singa Tertawa karya Yusi Avianto Pareanom
Satu hal menyenangkan tentang pemulihan tubuh dari sakit adalah kau memiliki seluruh waktu pada harimu. Menyesap teh madu hangat pelan-pelan sambil menyelesaikan bacaan yang tertunda dan mendapat dua kesimpulan. (kedua buku ini saya baca di pasca pemulihan dari sakit lambung)

Pertama, Rumah Kopi Singa Tertawa is not my cup of tea, saya merasa harus memaksa diri saya untuk membaca tulisan di dalamnya, nyentrik, iya, tapi tidak ‘nge-flow‘, tersendat-sendat. Kedua, Pram adalah jenius aksara dan pengocok jiwa, tulisannya menyentuh dengan cara yang brengsek, dan saya sebagai pembaca tidak bisa menghindari. Menyelesaikan Tetralogi Buru (serial ke-4: Rumah Kaca) rasanya seperti bangun dari kebutaan yang sudah berlangsung terlalu lama.

5

An Abundance of Katherines karya John Green
Ada 19 Katherine di dalam hidup Colin, seorang remaja prodigy yang sibuk mempertanyakan apakah dewasa nanti dia akan menjadi sejenius Einstein atau tidak. Kemudian ada Ahmad, sahabat Colin yang seorang muslim dan memanggil Colin dengan panggilan sayang, “Kafir”. Ceritanya tetap seputar remaja yang biasa saja namun dengan bumbu twist dan cerita yang menyebalkan, saking segarnya!

Katherine adalah simbol dari manusia dan kesalahan serupa yang diulang terus-menerus, Ahmad adalah diversity. Dengan bahasa yang ringan dan mengalir hingga akhir. Matematika dan theorem juga menjadi gimmick cerita yang menyenangkan dalam cara yang lucu sekaligus cerdas dan anehnya, menyentuh.

6

Dilan karya Pidi Baiq
Setelah menyelesaikan buku ini saya tidak bisa menuliskan review dan yang sanggup lahir adalah sepotong puisi picisan berikut.

Terima Kasih Tuhan Yang Maha Esa

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq tidak akan ada buku berjudul Dilan yang membuatku tertawa, meringis, dan terharu selama dua jam penuh

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya lupa rasanya membaca buku remaja yang ringan, lucu, segar, mengingatkan banyak hal manis yang hampir terlupakan

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya akan lupa bernostalgia atas rasa-rasa dan kejadian yang belum terjadi namun secara ajaib telah menjadi kenangan

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya akan berpikir semua orang populer itu membosankan, bikin ngantuk, dan pretensius

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya akan berpikir orang yang terhanyut usia akan selalu menjadi tumpul dan tidak menggetarkan

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya lupa rasanya jatuh cinta terhadap karakter fiktif dari sebuah buku

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya akan menganggap semua cerita cinta klise itu basi

Terima kasih, Tuhan

*) Puisi yang ditulis setelah menyelesaikan novel Dilan karya Pidi Baiq di Gunung Pancar Camping Ground A, diterangi lampu senter seadanya pada tanggal 25 Desember 2014.

8

Kritikus Adinan karya Budi Darma
Kumpulan cerpen yang sibuk membeberkan kisah kumpulan manusia yang tak mengenal tertib sosial dan bagaimana menjadi pantas. Manusia-manusia rekaan Budi Darma terasa keji, liar, gamblang, tak mengenal norma sekaligus terasa jujur, tulus, dan apa adanya.

Favorit saya adalah cerpen “Laki-laki Setengah Umur”, mengisahkan laki-laki yang terus berjalan ke arah barat yang tak dapat dihentikan baik oleh tangis, kelahiran, kebahagiaan, ketergantungan, dan kematian. Tanpa lelah ia terus berjalan menjauh dari segala kewajiban dan kesibukan tidak berarti yang membebaninya tanpa permisi.

Kutipan dari Hal 115:

Lelaki setengah umur berjalan terus. “Jahanam,” kata perempuan kurus, “mudah-mudahan kau terbakar dibakar matahari.” Laki-laki setengah umur berjalan terus, berjalan terus, berjalan terus.

10

Atom Jardin karya Yudha Sandy
Yudha Sandy adalah seorang seniman dan komikus yang tinggal dan berkarya di Yogyakarta, tahun ini saya berkesempatan mengikuti pameran yang sama dengannya. Kesempatan untuk mengenal karya komik Yudha Sandy adalah sebuah kebahagiaan tersendiri buat saya. Cerita yang ia buat terasa sangat kental nasionalis di dalam imaji dan realm yang ia reka-reka sendiri, terasa sekali ia adalah seseorang yang sibuk hidup di dalam kepalanya sendiri. Tokohnya terdiri dari penyendiri, kreator, seniman, pemimpin, pencinta, dan pemberontak. Tumpang tindih menjalani hidup yang berjalan tidak sesuai dengan rencana dan keinginan. Saya juga jatuh cinta dengan pendekatan sureal yang ia lakukan pada tokoh-tokohnya, seseorang yang patah hati lalu tinggal di atas awan, terbang melampaui jarak, dibubuhkan di sana sini dalam cara yang natural. Sungguh menikmati hingga lembar terakhir. Seluruh gambarnya pun diselesaikan dengan teknik cutting-paper.

_

Semua review di sini telah dipublikasikan di akun kolektif saya dan beberapa rekan hama buku Lemari Buku kecuali untuk ‘Maya’ dan ‘Atom Jardin’.

Saya mengingkari Kalender Baca 2014 yang saya buat di awal tahun, namun saya cukup senang berhasil menyelesaikan 10 buku di tahun 2014, karena buku yang saya baca dan tidak sanggup saya baca sampai selesai juga cukup banyak. Semoga baca-bacaan di tahun 2015 akan lebih menyenangkan.

An obsession: Interiors

January 3, 2015 § Leave a comment

A pale colour and clean-cut design style of parenthood, love, expectation, and attachment.

REBORN

January 1, 2015 § Leave a comment

Waktu baca: 4-6 menit (disarankan membaca sambil mendengarkan video di bawah)

Sepanjang tahun 2014 tidak terhitung berapa kali saya menonton video di atas, mabuk di antara imaji langit, aksen merah darah, awan, hamparan pasir, solitude, dan biru yang mendominasi. Kadang saya mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap, tapi yang lebih sering terjadi saya mendengarkan sambil mengerjakan hal-hal lain; membalas e-mail, menulis, membuat sketsa, atau mencatat di note book, begitu videonya selesai saya ulangi lagi, begitu terus sampai ada aktivitas lain yang berhasil menghentikan. Sensasi aneh yang dihadirkan bikin saya ketagihan, yang akhirnya saya pahami hari ini, ketika 365 hari kemarin telah selesai dan saya kembali mendapatkan paket 365 hari yang baru.

 Letting Go of Ghosts

1005600_480649148686750_294414574_n

Ada sebuah obsesi yang tumbuh, menjamur, dan menguasai diri saya sejak pertengahan 2013, tanpa saya sadari obsesi tersebut menggerogoti saya pelan-pelan di tahun 2014, melahirkan rasa penasaran lebih dari sebelumnya, keinginan mengendalikan, perhatian berlebihan atas apapun yang sifatnya ilusif, dan merasa pantas untuk mendapatkan semua yang mendatangkan dahaga. Batas antara kewajaran dan ketidakwajaran menjadi semakin tipis begitu juga pantas dan tidak pantas. I have a huge amount of desire for everything and nothing can stop me. Di penghujung tahun sedikit-sedikit saya mengerti dan melepaskan dahaga-dahaga tersebut mendekati ke titik nol, belum tandas tapi sudah lebih baik.

I am dead because I lack desire,
I lack desire because I think I possess.
I think I possess because I do not try to give.
In trying to give, you see that you have nothing; Seeing that you have nothing, you try to give of yourself;
Trying to give of yourself, you see that you are nothing:Seeing that you are nothing, you desire to become;
In desiring to become, you begin to live.”
~Rene Daumal

tumblr_nhcyw1uN3B1tsg9t2o1_1280

Keinginan mengendalikan malah membawa mental saya ke hal-hal yang semakin tidak bisa saya kendalikan. Mencari tahu memang sungguh menantang, semakin dalam menggali malah semakin sedikit hal yang dipahami. Ironis sekali bahwa rasa ingin tahu itu tidak akan membawa ke manapun kecuali ke rasa ingin tahu dan tanda tanya yang lebih besar. Terus menerus sampai akhirnya saya memutuskan menutup pertanyaan apapun dengan tanda titik dan hanya fokus pada suara-suara yang ingin saya dengar dan membangun kenyataan yang ingin saya lihat. The other voice is just a noise background. I have no more questions, I crave only for a lighter contentment.

Is religion just a type of philosophy? Is philosophy a religious activity?

detail

Jika sebelumnya perasaan saya memiliki peran lebih besar dalam menyelesaikan apapun dari kedua tangan saya, tahun ini otak mengambil alih. Saya menjadi lebih aware atas apapun yang saya buat, saya pun sadar momen ‘mengalir’ dalam unconscious realm tidak akan kembali lagi. Saya sempat kecewa, apalagi tahun ini saya terobsesi untuk mengendalikan semua hal, termasuk metode dalam membuat karya. Obsesi ini membuat saya melupakan betapa indahnya membiarkan semua terjadi dengan natural, betapa berat kepala ini bersuara ketika kedua tangan ingin membuat sesuatu. Jika dua tahun lalu saya bisa menyelesaikan satu gambar setiap hari, sekarang dalam satu bulan belum tentu saya melakukan aktivitas menggambar. Banyak pertanyaan di kepala, “Apakah ini cukup bagus?“, “Apakah cukup penting untuk direalisasikan?“, “Apakah punya makna lebih sehingga layak dilahirkan?“. Susah payah saya memahami bahwa proses ini selalu ada, secara berkala akan menjemput, siap atau tidak, mau atau tidak mau. Proses reborn yang selalu menunggu di sudut-sudut waktu, menanti momen yang tepat.

And the greatest war in this world is between you and your mind. Conscious or unconscious.

Keterkaitan dan keterukuran. Selalu ada sebuah theorem untuk menyelesaikan semua. Kesadaran ini sungguh membuat ringan. Terkadang persamaan tersebut sulit diselesaikan, terkadang persamaan tersebut semudah tambah, kali, bagi, dan kurang. Kerumitan dan kemudahan sama-sama mesti diselesaikan untuk mencapai jawaban. Mengkalkulasikan bukan hanya untuk nilai ekonomi dan matematika semata, semua aspek memiliki persamaan tersendiri, tergantung sepeka apa seorang individu menangkap variabel yang harus diperhitungkan di dalam persamaan. Variabel; pilihan; sifat; pihak lain; eksterior; momen; waktu; lokasi; tujuan; kadar; volume; motif; frekuensi; kelas; pola pikir; atensi; tujuan; dan semua hal yang hadir. Untuk mendapatkan kesimpulan, bukan atas dasar benar atau salah tapi yang paling sesuai berdasarkan variabel waktu saat itu. Dan variabel pelaku akan selalu memiliki pengaruh terbesar. Kadang ada juga persamaan yang tidak terselesaikan atau menyajikan tanda tak terhingga sebagai jawaban, momen ini hanya patut mendapatkan perayaan atau kepindahan.

There is a theorem for everything as long as you’re willing to finish the experiment.

Happy 2015. Happy reborn.

_

Jakarta, 1 Januari 2015

Tujuan tulisan ini sesederhana untuk membagi perasaan-perasaan yang hidup hari ini dan pasti terlupakan di esok hari. Sebuah usaha yang ternyata tidak mudah; menuangkan emosi ke dalam bentuk aksara dan bukan hanya merasakannya. Agar dapat dibaca berulang-ulang sebagai pengingat dan rasa syukur atas hari-hari yang telah lewat.

*) Klik gambar untuk sumber

PEREMPUAN ABU-ABU

December 6, 2014 § 2 Comments

greygirl

Perempuan abu-abu baru saja menyelesaikan sesi terapi warna yang sudah ia jalani selama satu tahun terakhir. Ia masih tetap abu-abu walaupun sudah tidak sepekat hari pertama saat ia mulai mengikuti sesi terapi. Sejak ia dilahirkan kedua orang tuanya sangat mengkhawatirkan warna yang keluar dari tubuhnya, abu-abu pekat mendekati hitam. Perempuan sangat tidak baik untuk berwarna abu-abu, itu seperti warna kematian, tutur sang ibu. Ibu perempuan abu-abu yang kebetulan memiliki tubuh dengan pendar warna pelangi yang terang-benderang, sungguh dibuat sedih dan putus asa oleh perempuan abu-abu.

Perempuan abu-abu bersedih hati, karena sesungguhnya ia tidak pernah merasa terganggu dengan tubuhnya yang mengeluarkan warna abu-abu. Ia justru menyukainya karena ia merasa tidak perlu selalu terlihat oleh orang lain dan karenanya ia tidak pernah mencuri perhatian di tengah keramaian. Ia nyaman dalam keabu-abuannya, di dalam kesendiriannya yang terlalu sering. Ayahnya yang kebetulan berwarna kuning juga turut bersusah hati, ia mengharapkan anak perempuannya memiliki golongan warna yang sama dengannya, golongan warna terang, mungkin oranye atau hijau stabilo. Ketika perempuan abu-abu masih di dalam perut ibunya sang ayah sudah membayangkan memiliki banyak petualangan bersama anaknya, panjat tebing, menyelam, atau terjun payung. Namun perempuan abu-abu tidak terlalu menyukai aktivitas beradrenalin tinggi. Perempuan abu-abu lebih menyukai aktivitas yang tenang dan tidak perlu banyak keluar rumah dan bertemu orang lain seperti membaca buku, menulis, atau merajut. Fisik perempuan abu-abu juga agak lemah, ia tidak bisa terlambat makan karena keasaman lambungnya tinggi, ia juga tidak bisa menyantap hidangan pedas. Singkat kata perempuan abu-abu adalah seseorang yang sangat membosankan, setidaknya bagi orang tuanya.

Perempuan abu-abu sering dibuat jengkel oleh ayah dan ibunya tidak pernah lelah berusaha merubah warna tubuhnya. Satu kali mereka pernah mencoba untuk mewarnai pendar tubuhnya secara manual, ibu dan ayah membeli beberapa kaleng cat dinding berwarna fuschia. Mereka menyuruh perempuan abu-abu berdiri di tengah-tengah garasi, setiap kali pendar abu-abu memancar keluar dari tubuhnya dengan cekatan ayah dan ibu menyapukan kuas pada pendar tersebut. Sia-sia, karena yang malah berganti warna adalah dinding garasi mereka dalam motif yang tidak karuan dan pendar abu-abu si anak semata wayang tetap sama. Di lain hari perempuan abu-abu disuruh mengenakan kulit bunglon kemudian dikirim untuk  mengikuti kemping musim panas yang diadakan di tengah-tengah kebun jeruk selama empat hari tiga malam, bukannya menjadi oranye seperti kulit jeruk, sekujur tubuh perempuan abu-abu malah jadi gatal karena kulit bunglon yang kurang bersih dan hama kebun yang sedang rajin beranak di luar sarang.

Ketika ia beranjak remaja, ayah dan ibu semakin was-was. Mereka ingin perempuan abu-abu lekas menikah sebelum ia menginjak usia 17 tahun dan berhak meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Mereka sungguh cemas perempuan abu-abu akan menikahi pria yang juga berwarna abu-abu sepertinya, atau bahkan hitam! Ayah dan ibu buru-buru mencarikan pacar untuk perempuan abu-abu, dari yang berwarna emas 24 karat sampai yang berkilau seperti kristal Swarovsky. Perempuan abu-abu sungguh kecewa karena jangankan berbicara dengan laki-laki pilihan orang tuanya, melihat wajahnya pun perempuan abu-abu tidak sanggup karena terlalu silau.

Setelah dibujuk siang dan malam akhirnya perempuan abu-abu setuju untuk mengikuti terapi warna. Ayah dan ibu berjanji di ulang tahunnya yang ke-17 tahun depan ia boleh hidup mandiri dengan syarat mengikuti terapi warna. Perempuan abu-abu mengikuti terapi warna dengan ogah-ogahan, namun ia selalu menghibur diri dengan kebebasan yang sebentar lagi akan ia miliki. Di terapi warna perempuan abu-abu memiliki beberapa teman baru. Ada pria yang berwarna hitam, ia kerap menangis tanpa alasan. Perempuan berambut merah yang berwarna transparan, ia tidak pernah merasakan apa-apa namun senang merajut seperti perempuan abu-abu, beberapa kali mereka merajut bersama dalam diam. Lalu ada gadis kecil hidung berbintik yang berwarna pudar, tidak jelas apa warna yang ia miliki karena terus berganti dari asap kabut lalu seakan-akan ke hujan yang sangat deras. Dari semuanya ia paling menyukai pria pendek berwajah bulat yang berwarna gradasi abu-abu ke putih, pria ini sangat tenang seperti udara yang diam-diam tak bergerak atau bersuara.

Di hari terakhir terapi perempuan abu-abu dan pria gradasi abu-abu ke putih bergandengan tangan, pria menenteng koper berukuran sedang dan satu buket bunga anggrek bulan. Sementara di kejauhan tampak ibu perempuan abu-abu sedang menangis tersedu-sedu di pundak sang ayah, sambil mengeluarkan kombinasi pendar kuning dan pelangi yang menyilaukan.

_

Jakarta, sore, hujan, 6 Desember 2014.

Ilustrasi oleh penulis.

  • Silahturahmi

  • Sering Ditengok

  • Archives

  • Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers

%d bloggers like this: