PEREMPUAN ABU-ABU

December 6, 2014 § 1 Comment

greygirl

Perempuan abu-abu baru saja menyelesaikan sesi terapi warna yang sudah ia jalani selama satu tahun terakhir. Ia masih tetap abu-abu walaupun sudah tidak sepekat hari pertama saat ia mulai mengikuti sesi terapi. Sejak ia dilahirkan kedua orang tuanya sangat mengkhawatirkan warna yang keluar dari tubuhnya, abu-abu pekat mendekati hitam. Perempuan sangat tidak baik untuk berwarna abu-abu, itu seperti warna kematian, tutur sang ibu. Ibu perempuan abu-abu yang kebetulan memiliki tubuh dengan pendar warna pelangi yang terang-benderang, sungguh dibuat sedih dan putus asa oleh perempuan abu-abu.

Perempuan abu-abu bersedih hati, karena sesungguhnya ia tidak pernah merasa terganggu dengan tubuhnya yang mengeluarkan warna abu-abu. Ia justru menyukainya karena ia merasa tidak perlu selalu terlihat oleh orang lain dan karenanya ia tidak pernah mencuri perhatian di tengah keramaian. Ia nyaman dalam keabu-abuannya, di dalam kesendiriannya yang terlalu sering. Ayahnya yang kebetulan berwarna kuning juga turut bersusah hati, ia mengharapkan anak perempuannya memiliki golongan warna yang sama dengannya, golongan warna terang, mungkin oranye atau hijau stabilo. Ketika perempuan abu-abu masih di dalam perut ibunya sang ayah sudah membayangkan memiliki banyak petualangan bersama anaknya, panjat tebing, menyelam, atau terjun payung. Namun perempuan abu-abu tidak terlalu menyukai aktivitas beradrenalin tinggi. Perempuan abu-abu lebih menyukai aktivitas yang tenang dan tidak perlu banyak keluar rumah dan bertemu orang lain seperti membaca buku, menulis, atau merajut. Fisik perempuan abu-abu juga agak lemah, ia tidak bisa terlambat makan karena keasaman lambungnya tinggi, ia juga tidak bisa menyantap hidangan pedas. Singkat kata perempuan abu-abu adalah seseorang yang sangat membosankan, setidaknya bagi orang tuanya.

Perempuan abu-abu sering dibuat jengkel oleh ayah dan ibunya tidak pernah lelah berusaha merubah warna tubuhnya. Satu kali mereka pernah mencoba untuk mewarnai pendar tubuhnya secara manual, ibu dan ayah membeli beberapa kaleng cat dinding berwarna fuschia. Mereka menyuruh perempuan abu-abu berdiri di tengah-tengah garasi, setiap kali pendar abu-abu memancar keluar dari tubuhnya dengan cekatan ayah dan ibu menyapukan kuas pada pendar tersebut. Sia-sia, karena yang malah berganti warna adalah dinding garasi mereka dalam motif yang tidak karuan dan pendar abu-abu si anak semata wayang tetap sama. Di lain hari perempuan abu-abu disuruh mengenakan kulit bunglon kemudian dikirim untuk  mengikuti kemping musim panas yang diadakan di tengah-tengah kebun jeruk selama empat hari tiga malam, bukannya menjadi oranye seperti kulit jeruk, sekujur tubuh perempuan abu-abu malah jadi gatal karena kulit bunglon yang kurang bersih dan hama kebun yang sedang rajin beranak di luar sarang.

Ketika ia beranjak remaja, ayah dan ibu semakin was-was. Mereka ingin perempuan abu-abu lekas menikah sebelum ia menginjak usia 17 tahun dan berhak meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Mereka sungguh cemas perempuan abu-abu akan menikahi pria yang juga berwarna abu-abu sepertinya, atau bahkan hitam! Ayah dan ibu buru-buru mencarikan pacar untuk perempuan abu-abu, dari yang berwarna emas 24 karat sampai yang berkilau seperti kristal Swarovsky. Perempuan abu-abu sungguh kecewa karena jangankan berbicara dengan laki-laki pilihan orang tuanya, melihat wajahnya pun perempuan abu-abu tidak sanggup karena terlalu silau.

Setelah dibujuk siang dan malam akhirnya perempuan abu-abu setuju untuk mengikuti terapi warna. Ayah dan ibu berjanji di ulang tahunnya yang ke-17 tahun depan ia boleh hidup mandiri dengan syarat mengikuti terapi warna. Perempuan abu-abu mengikuti terapi warna dengan ogah-ogahan, namun ia selalu menghibur diri dengan kebebasan yang sebentar lagi akan ia miliki. Di terapi warna perempuan abu-abu memiliki beberapa teman baru. Ada pria yang berwarna hitam, ia kerap menangis tanpa alasan. Perempuan berambut merah yang berwarna transparan, ia tidak pernah merasakan apa-apa namun senang merajut seperti perempuan abu-abu, beberapa kali mereka merajut bersama dalam diam. Lalu ada gadis kecil hidung berbintik yang berwarna pudar, tidak jelas apa warna yang ia miliki karena terus berganti dari asap kabut lalu seakan-akan ke hujan yang sangat deras. Dari semuanya ia paling menyukai pria pendek berwajah bulat yang berwarna gradasi abu-abu ke putih, pria ini sangat tenang seperti udara yang diam-diam tak bergerak atau bersuara.

Di hari terakhir terapi perempuan abu-abu dan pria gradasi abu-abu ke putih bergandengan tangan, pria menenteng koper berukuran sedang dan satu buket bunga anggrek bulan. Sementara di kejauhan tampak ibu perempuan abu-abu sedang menangis tersedu-sedu di pundak sang ayah, sambil mengeluarkan kombinasi pendar kuning dan pelangi yang menyilaukan.

_

Jakarta, sore, hujan, 6 Desember 2014.

Ilustrasi oleh penulis.

lupa yang relatif

November 21, 2014 § Leave a comment

Ada beberapa lupa yang terjadi beberapa minggu terakhir.

Saya lupa bagaimana rasanya berteman dengan manis, natural, dan tanpa ketergantungan yang mengganggu. Saya lupa apa rasanya bangun tidur tanpa rasa was-was akan hal-hal yang harus diselesaikan hari itu juga. Saya lupa apa rasanya tidak memiliki kekhawatiran akan uang. Saya lupa rasanya percaya dengan apa yang dirasakan tanpa setitik pun ragu. Saya lupa rasanya merindukan seseorang dengan tulus dan tanpa menahan-nahan. Saya lupa rasanya satu hari penuh tidak melakukan apa-apa tanpa rasa bersalah. Saya lupa rasanya berlibur impulsif tanpa melakukan perhitungan akan hari-hari yang akan datang. Saya lupa apa rasanya membaca sebuah buku tanpa ekspektasi akan seperti apa buku ini nantinya. Saya lupa rasanya tidak membandingkan apa yang saya miliki dan apa yang pernah saya miliki. Saya lupa rasanya memandang orang dewasa dan tidak sabar menjadi seperti mereka nantinya. Saya lupa rasanya bersabar dan diam-diam mengamati sebelum waktunya mencapai pun tiba. Saya lupa rasanya menggarap sebuah proyek personal tanpa ada kekhawatiran apa pendapat orang lain nantinya. Saya lupa rasanya tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk akan hidup. Saya lupa rasanya tidak melakukan perhitungan atas segala sesuatu. Saya lupa rasanya bersabar atas sikap orang lain yang menganggu saya. Saya lupa rasanya berbicara lepas tanpa takut dimaknai berbeda oleh lawan bicara. Saya lupa rasanya duduk melamun tentang semua yang tidak penting. Saya lupa rasanya tidak sabar dandan lalu pergi ke sebuah keramaian yang menyenangkan. Saya lupa rasanya melakukan obrolan kecil yang tidak penting tapi biasanya menghibur sekali. Saya lupa rasanya bersenang-senang tanpa ada batas waktu dan kewajaran. Saya lupa rasanya pergi hingga pagi dengan teman-teman terdekat untuk tertawa dan berbagi kisah. Saya lupa rasanya berbaring sendirian dan menatap langit-langit sambil berandai melalui kenangan. Saya lupa rasanya mengapresiasi hal-hal kecil seperti hujan di sore hari setelah siang yang terik. Saya hampir lupa rasanya menghargai konsistensi dan kegigihan walaupun hasilnya tidak terlihat. Saya lupa melupakan yang tidak penting lalu fokus pada yang penting saja. Saya lupa yang penting itu persoalan perspektif saja.

Memang sudah seharusnya lupa itu dilawan.

_

Masih di kota abu-abu dan sedang butuh hamparan rumput luas, 21 November 2014.

LIST OF THE THINGS THEY DON’T TEACH YOU AT SCHOOL

November 9, 2014 § Leave a comment

I’ve been making a list of the things they don’t teach you at school. They don’t teach you how to love somebody. They don’t teach you how to be famous. They don’t teach you how to be rich or how to be poor. They don’t teach you how to walk away from someone you don’t love any longer. They don’t teach you how to know what’s going on in someone else’s mind. They don’t teach you what to say to someone who’s dying. They don’t teach you anything worth knowing. ~Neil Gaiman, The Sandman, Vol. 9: The Kindly Ones

Iklim

October 29, 2014 § Leave a comment

Yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Ditemani dengan meja dan kursi yang ergonomis sehingga tulang-tulang dan otot tidak cepat tegang kemudian lelah.

Kalau sedang dijepit dengan tenggat waktu cuaca tidak menjadi masalah, hujan atau panas akan tetap dihadapi karena tidak ada pilihan lain. Ketika waktu senggang itu datang iklim mendadak bisa menjadi masalah. Terlalu panas untuk bekerja di luar rumah atau terlalu mendung dan sejuk untuk berpikir.

Memang selalu banyak alasan kalau sedang tidak terhimpit tenggat waktu.

Kalau dari film Lucy waktu adalah satu-satunya satuan ukuran yang nyata di muka bumi. Tanpa waktu semuanya tidaklah berwujud. Jadi teringat hukum relativitas Einstein bahwa yang kita lihat sekarang ini bisa saja terlihat berbeda dari sudut pandang yang lain. Terlalu cepat jika dilihat dari Selatan namun lambat dari Barat. Jika otak ini dapat melihat dan merasa lebih dari kecepatan sang waktu maka bentuk-bentuk yang sekarang kasat mata itu pun hilang. Semuanya tembus pandang dan tidak lagi nyata. Indah ya?

Mungkin harus selalu terhimpit tenggat waktu agar otak dan tubuh ini rajin.

Kalaupun tenggat waktu itu sedang tidak ada alangkah baiknya dibuat sendiri. Agar otak dan tubuh merasa terus tertantang bukannya keenakan bersantai, duduk selonjoran di ruang tengah, nonton serial Girls ditemani teh hangat dan tahu isi, tidur siang, melamun di sore hari sambil melihat kaktus, berbaring menatap langit-langit, melihat timeline Instagram dua jam lamanya, dan berbagai kegiatan sejenisnya.

_

Malam Sejuk, 30 Oktober 2014

Goddess of Small Things

October 28, 2014 § Leave a comment

And the air was full of Thoughts and Things to say. But at times like these, only the Small Things are ever said. Big Things lurk unsaid inside. ~Arundhati Roy, The God of Small Things

I train myself to always get back on track.

Beberapa bulan terakhir rasanya seperti berjalan dalam kecepatan yang tidak bisa saya ikuti dengan kesadaran penuh. Terlalu tumpang tindih, semakin susul menyusul satu sama lain. Kadang waktu berangkat tidur dan menyambut pagi seperti terjadi dalam sekejap mata.

Saya merasa kehilangan aktivitas kesukaan saya: membekukan waktu. Jurnal hanya teronggok sia-sia, semakin jarang dibuka apalagi ditulis. Buku sketsa nasibnya kurang lebih sama. Yang selalu terisi hanyalah work note, padat to-do-list dan catatan-catatan yang dirasa penting.

Betapa ironisnya bahwa yang penting-penting itu hanya terasa penting di hari itu saja. Sementara yang akan terasa penting dalam jangka waktu yang lama tidak lagi sempat direkam, dibiarkan berlalu dan terlupakan.

Malam ini memutuskan harus lebih memaksa diri lagi untuk cermat menggunakan waktu, work note padat to-do-list itu memang harga mati tapi saya masih ingin membekukan momen dan rasa-rasa yang melewati hari. Mencatat, merekam, dan menggambarkan lagi.

Harus semakin efisien dengan waktu, lebih hati-hati mengiyakan sesuatu apalagi yang memakan waktu dengan sia-sia.

_

Malam Mantra, 29 Oktober 2014.

Religion

June 22, 2014 § Leave a comment

I’m a big believer in creativity as a combinatorial force — a great big puzzle you construct from existing pieces in your mental pool of resources. Which is why I strive to continuously highlight tidbits of interestingness and inspiration, in the hope that each of them lies dormant in your mind until, one day, it sparks some incredible new creation.

Quoted from Brain Pickings.

NATURAL

June 8, 2014 § Leave a comment

Saya percaya hal-hal dalam kehidupan akan baik hasilnya jika terjadi secara natural. Natural dalam arti berasal dari kesadaran yang tumbuh di dalam diri untuk memilih dan melakukan satu hal, bukan dari pengaruh atau dorongan orang lain. Misalnya:

  1. Menikah. Aktivitas ini besar sekali tanggung jawab dan juga beban moralnya. Siapa bilang menikah itu cuma bisa berbekal cinta? Menambatkan hati, kebahagiaan, dan kepercayaan kepada manusia lain tidak dapat dipungkiri berat sekali. Belum lagi proses meredam ego yang cenderung teriakannya semakin lantang seiring bertambahnya usia. Alangkah berbahagianya dua insan manusia yang memasuki bahtera rumah tangga bukan karena dorongan pihak lain atau kondisi (bisa berasal dari orang tua, sosial, ekonomi, dan rasa tidak percaya diri melajang terlalu lama). Menikah bagi saya adalah sebuah proses kebersamaan yang harus terjadi dengan natural, menjalani hidup berdua murni karena dorongan hati keduanya.
  2. Berkarya. Apapun bentuknya, menelurkan sesuatu yang belum pernah ada dari pikiran dan tanganmu bukanlah hal yang istilahnya “ecek-ecek”. Memulainya jelas lebih gampang dari pada mempertahankan diri dan pikir untuk terus menelurkan karya. Berkarya seringkali tidak memberikan keuntungan kapital kepada pembuatnya, jika pun mendapatkan biasanya harus melalui proses panjang dan melelahkan. Berkarya itu seperti cinta tanpa syarat, tidak mendapatkan cinta balasan pun tidak apa asal bisa melakukan, tidak ada yang memuji atau memperhatikan pun tidak apa asal bisa melakukan. Begitu murni tanpa embel-embel kapitalis yang sudah mengepung semua sisi kehidupan. Berkarya yang tulus adalah sebuah pilihan yang mahal sekali. Bagus atau jelek hasilnya, itu persoalan lain.
  3. Bersuara. Entah ideologi, opini, atau pilihan yang muncul karena dorongan dari hati, ibarat mendapatkan sebuah hidayah, titik terang yang membuat seseorang melakukan sesuatu untuk mendukung pemikiran atau pilihannya. Jika dikaitkan dengan situasi sekarang, adalah memilih pemimpin negara. Politik tidak pernah terasa menarik bagi saya hingga masa ini tiba, ketika kemunculan seorang manusia yang bisa “bekerja” dan berasal dari “rakyat” menjadi calon puncak segala pemimpin. Setelah era kegelapan yang demikian panjang, pucuk harapan itu tumbuh kembali di dalam hati. Harapan kalau pada akhirnya ada yang benar-benar “bekerja” sebagai pemimpin dan siap membangunkan negara ini beserta isinya dari tidur yang panjang. Mungkin ada yang menganggap apalah arti pergerakan seorang, dua, atau tiga orang rakyat? Ibarat kepakan seekor kupu-kupu kecil di antara kibasan sayap elang. Bukankah lebih baik jadi kupu-kupu kecil yang bergerak daripada tidak melakukan apa-apa? Cuma ada dua pilihan: kemunduran atau kemajuan. Saya memilih maju.

    “It has been said that something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world.” ~Chaos Theory

_

Jakarta, 8 Juni 2014.

Catatan tambahan:
Beberapa hari lalu membaca ini: “Siapapun Presidennya kamu tetap mencari uang dan makan sendiri.“, sungguh miris. Sebuah kalimat pembodohan massa, tidak paham efek domino dan hukum sebab akibat. Semua hal dari yang besar hingga kecil dimulai pada sebuah titik, saling terkait, mempengaruhi satu sama lain. Bersuaralah jika kamu percaya itu memang untuk kemajuan.

  • Silahturahmi

  • Sering Ditengok

  • Archives

  • Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers

%d bloggers like this: