(Waktu baca: 2 – 3 menit)

“YOU have to hit the ground running,” the artist Kiki Smith said recently, referring to her process. “You have to have multiple things happening, so you’re not just standing around.” It’s hard to imagine this is much of a risk for Ms. Smith, 56. So far this year, at least, she has hardly stood still.

Ketika saya membaca pembukaan dari sebuah artikel yang mengulas tentang Kiki Smith, saya mengalami apa yang saya sebut instant like pada seniman perempuan ini. Menelusuri karya-karyanya, latar belakang, definisinya atas karya, dan aktivitas yang ia lakukan rasanya seperti menemukan sebuah potongan puzzle yang hilang, sebuah pembenaran atas pendapat yang sudah lama ada di dalam kepala saya, bahwa hidup memang terlalu singkat dan berharga untuk diisi dengan melakukan satu hal yang sama. Tidak banyak yang membenarkan pendapat saya ini, sebenarnya lebih karena zaman yang tidak lagi pro dengan cara Renaissance — hampir tidak ada lagi manusia yang pantas digolongkan sebagai seorang Polymath atau Renaissance Man seperti Leonardo Da Vinci dan Michelangelo. Well.

Penjelasan mengenai Renaissance ideal adalah mereka yang memiliki sikap Sprezzatura:

A courtier should have a detached, cool, nonchalant attitude, and speak well, sing, recite poetry, have proper bearing, be athletic, know the humanities and classics, paint and draw and possess many other skills, always without showy or boastful behavior, in short, with “sprezzatura”.

Bukannya saya mengatakan bahwa yang saya lakukan menyerupai mereka yang hidup di era pergerakan Renaissance, persamaannya hanya terletak pada diversity-nya, sejak dulu saya tidak bisa melakukan satu hal yang sama terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Saya membutuhkan aktivitas lain sebagai distraksi — dalam arti denotatif keberadaan distraksi tersebut membuat saya memiliki fokus serta endurance yang usianya lebih panjang. Lucu memang ketika distraksi justru membantu saya untuk menyelesaikan sesuatu.

Tentu saja dalam deretan aktivitas yang saya lakukan ada satu pemeran utama, yang mendapat porsi fokus paling banyak, menempati skala prioritas tertinggi. Distraksi otomatis mengalah ketika pemeran utama sedang demanding, membutuhkan energi dan alokasi waktu banyak. Mereka ada untuk dikalahkan, memenangkan pemeran utama, karena sejak awal keberadaan mereka lebih kepada support system pada pemeran utama. Sejak akhir tahun 2012 hingga sekarang secara tidak sadar (dan sadar) saya melakukan beberapa profesi sekaligus sebagai seorang ilustrator, seniman, editor, interior stylists, penulis, dan (bahkan) panitia penyelenggara sebuah art event *LOL*. Pada akhir tahun 2013 hingga sekarang daftar aktivitas mengalami penambahan lagi yaitu sebagai visual merchandiser. Tahun-tahun sebelumnya tidak perlu dibahas karena racikan profesi yang saya lakukan jauh lebih ajaib lagi.

Pemeran utama dari deretan aktivitas tersebut adalah visual, ilustrasi, dan seni karena mereka adalah cinta pertama saya dan rasanya bisa berlangsung untuk selamanya. Benang merah dari hal-hal lain yang saya lakukan: kreasi. Yang sifatnya membuat sesuatu dari nol, merancang, dan mewujudkan hal yang tadinya hanya berbentuk ide. Tentu saja ada dampak negatif yang seringkali muncul, yaitu ketika jadwal ideal yang sudah disusun bergeser dari tempatnya, beberapa aktivitas yang seharusnya tidak bertabrakan malah bertemu dalam kurun waktu yang sama. Lelah dan hasil yang terasa kurang maksimal adalah akibat yang harus ditanggung, ketidakpuasan atas hasil ini biasanya membawa saya ke niat untuk lebih fokus. Kalimat “Berhenti banyak mau!” berteriak berulang-ulang di dalam kepala seperti palu godam. Namun hal yang terjadi kemudian bisa ditebak, pelan tapi pasti saya kembali melakukan beberapa hal sekaligus, lagi dan lagi. Karena dengan cara itu saya memang merasa lebih “hidup”.  Hingga di satu titik saya pun pasrah dengan sifat saya yang satu ini, tugas saya adalah mencari strategi dan cara bekerja yang memang dapat mengakomodir semuanya dengan lebih baik.

Adalah sebuah masa di mana saya melepaskan ingin yang banyak itu lalu melakukan hal yang sama terus menerus, turunan dari pilihan ini adalah saya bertemu dengan orang-orang yang serupa, beraktivitas di lokasi yang itu-itu saja, dan membicarakan topik yang sama. Lambat laun saya merasa sesak nafas, seperti kembeli dicekik dengan keharusan untuk melakukan, rasanya serupa dengan titik hidup saat saya bekerja 9-5 di bidang yang tidak saya minati beberapa tahun yang lalu. Pelan-pelan saya pun bergerak keluar mencari distraksi lain yang membuat saya bertemu dengan mereka yang memiliki fokus serta pemikiran berbeda, membicarakan hal-hal lain, tertawa atas lelucon yang belum pernah saya dengar sebelumnya dan saya pun bisa kembali bernafas. Hal-hal di luar pemeran utama itu biasanya secara tidak terduga membawa pencerahan atas pemeran utama, angin segar yang tidak diduga-duga, dan yang paling penting menjauhkan rasa bosan atasnya.

Kembali lagi kepada pilihan.

Ini adalah bentuk kehidupan yang sesuai dengan diri saya, keberadaan seorang pemeran utama dan beberapa distraksi adalah kebutuhan pokok saya untuk terus bergerak. Bukan berarti konsep ini adalah konsep yang paling benar, sebab bentuk kehidupan sifatnya sangat organik dan lentur, sudah menjadi job desc-nya untuk menyesuaikan dengan setiap manusia sebagai carrier-nya. Kembali ke manusianya lagi apakah memang mau mencari bentuk kehidupan yang sesuai baginya atau tidak. Ada banyak trial and error dalam pencarian tersebut, kurang lebih sama seperti proses pencarian pasangan hidup :)

Sekarang pun saya masih dalam pencarian tersebut, karena sepanjang nafas masih mengisi tubuh, ada kesadaran hidup memang harus terus bergerak dan tumbuh.

Sebagai penutup tulisan ini saya ingin mengutip sebuah kalimat Austin Kleon dari bukunya “Steal Like an Artist“:

If you have two or three real passions, don’t feel like you have to pick and choose between them. Don’t discard. Keep all your passions in your life. Let them talk to each other. Something will happen.

So, be it. Be alive.

_

Bandung, 16 April 2014.

The word ‘illustration’ is one I don’t actually like a lot; it suggests something derivative, a visual elaboration of an idea governed by text. In ‘fine arts’ discourse you often find the term used in a derogatory sense, almost in opposition to serious drawing or painting; something is ‘mere illustration’. That is, somewhat slavish or incapable of self-contained meaning; it can only be descriptive.

~Shaun Tan

That’s why I prefer to use word “drawing” rather than “illustration”. Illustration is a complement. Why you born into this world to make complement for others work?

KALENDER BACA 2014 sm

Click image for full preview

Terinspirasi (sekali) dengan postingan benzbara soal kalender baca 2014 di sini saya pun tanpa banyak berpikir langsung ikutan membuat. Yang menyenangkan dari membuat kalender ini adalah jadi lebih tahu pemetaan buku-buku yang sedang menarik minat saya saat ini dan bisa lebih fokus soal anggaran belanja buku.

Kalau kalender baca 2014 versimu seperti apa?

  1. Tidak perlu berteman atau bersahabat atau berdiskusi dengan semua manusia yang kamu kenal. Memilih itu bukan berarti menjadi picky tapi tahu betul apa yang kamu perlukan dan berdampak baik untuk pikiran dan ideologi sebagai seorang manusia.
  2. Fiksi itu menggugah dan menginspirasi namun buku-buku non fiksi yang ditulis oleh mereka yang berpikiran terbuka, kritis, dan tajam ternyata terasa mengaktifkan bagian otak yang selama ini hanya terlelap atau sibuk melayang di alam mimpi. Waktunya lebih berpijak ke tanah, melihat dan membaca hal-hal yang memang benar-benar terjadi.
  3. Waktu dan energi begitu berharga alangkah baiknya untuk lebih cermat memilih dan memilah aktivitas apa saja yang akan menggunakan keduanya. Lebih keras lagi atas penggunaannya!
  4. Pendapat dan opini setiap orang akan ada yang berseberangan tidak akan pernah sama. Dan kebenaran itu sifatnya relatif tergantung dari sudut mana memandangnya. Pondasi harus kuat, prinsip harus matang agar tidak mudah terbawa arus pendapat dan opini yang sebenarnya tidak sesuai. Sembari tetap menjaga kelenturan agar tetap bisa menerima hal-hal di luar diri yang sifatnya untuk kebaikan.
  5. Bersenang, bersantai, dan liburan itu perlu sekali untuk mental yang sehat namun tidak perlu sampai mendominasi ingin dan hari. Karena sesungguhnya jika melihat ke dalam diri sudah terlalu banyak PR yang ditunda dan belum selesai. Ketinggalan tersebut berbeda-beda tergantung individunya. Adalah tugas masing-masing juga untuk menemukan cara mengejar ketinggalannya.
  6. Berkata tidak dan menolak bukanlah bentuk membatasi diri namun lebih ke perwujudan lebih “mengenal diri”. Mengenal batasan-batasan diri yang dimiliki atas waktu, energi, dan keinginan. Jika tahu tidak akan menikmati sebuah ajakan atau undangan tidak ada salahnya menolak. Tentunya dengan cara yang baik dan masuk akal.
  7. Batasan, aturan, dan semestinya harus bagaimana tidak selalu berlaku. Batasan adalah sesuatu yang dibuat oleh manusia sehingga sifatnya tidak mutlak. Kebaruan selalu diperlukan selama mau mencari jalannya dan tidak sibuk membatasi diri.
  8. Bekerja mencari uang adalah mutlak hukumnya. Harus mampu menghidupi diri sendiri tanpa memberatkan orang lain. Setiap kita dapat mencapai kebebasan hidup apabila dapat menghidupi dan bertanggung jawab atas semua hari yang dilewati. Namun bekerja dalam taraf kesibukan yang membuat sulit berpikir, memilih, dan membuat sesuatu (baca: berkarya) sebaiknya dtinjau kembali. Kesibukan yang berlebihan tanpa memberi makanan bagi jiwa cenderung menyeret seseorang untuk mencari sumber kebahagiaan semu dan bersifat sementara atas nama penyegaran jiwa atau otak. Sudah semestinya setiap kita memiliki bentuk mencari uang yang sesuai bagi aktualisasi diri, cukup untuk menghidupi, dan tentu saja sehat bagi jiwa.
  9. Menulislah, karena dengan menulis kemampuan untuk mengungkapkan ide dan pendapat akan membaik, pertumbuhan cara berpikir akan terekam dengan seksama. Menulis juga merupakan sebuah aksi nyata untuk mengosongkan pikiran dengan hal-hal yang tidak disadari sudah ketinggalan zaman dan kaku dengan yang bersifat baru. Terus perbaharui pikiran dengan menulis. Tidak perlu menulis yang penting bagi orang lain, selama yang ditulis itu terasa penting bagi diri sendiri.
  10. Bekerja dan berkarya layaknya seorang seniman tulen. Dalam hal ini percaya pada idenya sendiri dan selalu mencari jalan untuk mewujudkannya. Di atas itu semua upayakan untuk menjaga kejujuran dalam membuat sesuatu. Segala sesuatu yang keluar dari otak dan kedua tangan merupakan hasil kontemplasi yang sakral, sudah sewajarnya bebas dari pretensi dan intensi semu yang bersifat permukaan belaka.
  11. Segala wadah sosial yang terdapat di internet adalah sebuah “alat” semata, sebaiknya tetap diposisikan sebagai alat bukan bagian dari diri. Jika digunakan untuk menyebarkan hal-hal yang baik lambat laun akan terasa membawa kebaikan atau perubahan. Diam bukan lagi sebuah sikap yang baik di masa sekarang ini. Namun bicara yang isinya hanya sampah juga sebaiknya dihindari.
  12. Perasaan memiliki Tuhannya sendiri. Tuhan logika kadang diam karena Tuhan perasaan selalu lebih lantang berbicara, membuat seorang manusia kadang melakukan hal-hal yang jika ditilik secara logika sungguh tidak masuk akal. Namun ketika bertemu di tengah-tengah Tuhan logika dan Tuhan perasaan itu sepakat bahwa memang ada beberapa orang dan hal yang patut diperjuangkan, tentu saja dengan keberanian menghadapi resikonya.

Jakarta, 31 Desember 2013

-

Awalnya tulisan ini hanya untuk pengingat di jurnal personal saya, namun ketika saya baca ulang hal-hal yang terkandung di dalamnya terasa begitu umum sehingga saya memutuskan untuk menuliskannya di sini. Tanpa harapan tertentu atau intensi apa-apa. Sesederhana ingin berbagi sepenggal pemikiran sok tahu saya (atas diri saya sendiri) di hari terakhir tahun 2013 yang lahir atas rentetan peristiwa, obrolan, renungan, dan bacaan sepanjang tahun 2013.

It is a battle you have to fight against procrastination and something I call internal attrition.  That attrition makes you want to do anything other than sit down and write.  Like Marcellus Wallace said in Pulp Fiction, “you gotta fight through that.”

We all worry about what others think of us. We all long to succeed and fear failure. We all suffer – to a greater or lesser degree, usually privately and with embarrassment – from status anxiety. […] This is an almost universal anxiety that rarely gets mentioned directly: an anxiety about what others think of us; about whether we’re judged a success or a failure, a winner or a loser.

~ The one and only Alain de Botton, probably the only modern philosopher I trust.

by Charles Bukowski

”– you know, I’ve either had a family, a job,
something has always been in the
way
but now
I’ve sold my house, I’ve found this
place, a large studio, you should see the space and
the light.
for the first time in my life I’m going to have
a place and the time to
create.”

no baby, if you’re going to create
you’re going to create whether you work
16 hours a day in a coal mine
or
you’re going to create in a small room with 3 children
while you’re on
welfare,
you’re going to create with part of your mind and your body blown
away,
you’re going to create blind
crippled
demented,
you’re going to create with a cat crawling up your
back while
the whole city trembles in earthquake, bombardment,
flood and fire.

baby, air and light and time and space
have nothing to do with it
and don’t create anything
except maybe a longer life to find
new excuses
for.

… interesting is the way people look when they are lost in thought, when their face becomes angry or serious, when they bite their lip, the way they glance, the way they look down when they walk, when they are alone and smoking a cigarette …”

~Clemence Poesy

Words are loaded pistols.~Jean-Paul Sartre

Selama dua tahun terakhir mungkin pameran ini yang terasa paling menggetarkan, setidaknya bagi saya pribadi. Karya, lokasi, dan konsep semuanya melebur satu tanpa pretensi berlebihan, terasa begitu mengalir. Pameran yang tidak hanya terasa sebagai showcase semata dan menitikberatkan pada visual indah yang memanjakan indera penglihatan, namun sebuah dialog aktif antara karya dan penikmatnya. Rekaman cermat atas generasi yang sedang bergerak dan hal-hal aktual. Sebagai penikmat yang sepulang dari sana mau tidak mau jadi berpikir saya hanya ingin mengucapkan “Bravo!“.

Mengacu pada kalimat Jean-Paul Sartre di atas, berikut rekaman seadanya atas katakata yang terasa melekat.

Being an artist is a calling.

Being an artist is a calling.

Hargai pemikiran loe dulu kalo mau dihargai orang.
P1040663

Saya harus jujur.

P1040666


Seniman tidak boleh sentral dan hanya menjadikan masyarakat sebagai objek estetika untuk hasil karyanya.

P1040671

Mari menjaga kebersihan dari kotoran idealisme.

P1040690

Pak Beruang takut tikus.

P1040691


Ketika kemajemukan dipaksakan untuk menjadi keseragaman, ketika itu pula pribadi-pribadi menjadi surut peran dan fungsinya.

P1040699

Tanpa Oktober 1917 tiada Agustus 1945.

P1040713

Sampai dimanakah yang menyimpang itu berhenti.

P1040714

Usaha untuk Berkenalan.

P1040720

So there is no darkness anymore.

P1040728

Tidak ada seni tanpa kemalasan.

P1040731

Minds under construction.

P1040741

Setiap pribadi adalah guru sekaligus murid.

P1040742

Untuk anak pemilik masa depan pendidikan tidak bisa ditunda.

P1040751

Bukan jalan umum.

P1040753

Cuci sendiri alat makanmu sehabis digunakan.

P1040761

Free rice.

P1040771

My mouth is art river.

P1040782

Establish relationships.

P1040787

Membidik sejarah.

P1040789

Seniman sedang bekerja.

P1040805

EXIT.

*) Kahlil Gibran

Ada efek domino yang kacau antara hubungan orang tua dan anak. Beberapa orang tua memberikan segalanya untuk anaknya, mengorbankan mimpinya, kebahagiaannya, dan bahkan hubungan suami istri harmonis yang dimiliki. Manusiawi jika seorang manusia yang merasa telah memberikan segalanya memiliki ekspektasi tertentu, dalam hal ini tentu saja tidak dapat diberi label sebagai pamrih. Karena cinta jenis ini memang tulus sekali, berbeda dengan jenis lainnya.

Namun ekspektasi ini seringkali tidak bertemu jodohnya, karena seorang anak ketika memasuki usia tertentu maka ia akan disibukkan dengan keharusannya menjadi seorang individu dengan pemikiran dan keinginan sendiri. Kehidupan yang harus ia perjuangkan sendiri. Pilihan yang harus dia pikirkan sendiri. Sama seperti orang tuanya ketika berada dalam tahap kehidupan yang serupa. Ekspektasi tersebut pun dipatahkan dengan kehidupan dan usia dan rentetan kewajiban. Manusiawi juga.

Cinta, otomatis menjadi kusut ketika perasaan memiliki menjadi jauh lebih besar daripada kasih sayang itu sendiri. Hal ini berlaku pada segala tipe hubungan manusia, antar jenis, sesama jenis, dan orang tua ke anak juga sebaliknya. Kasih sayang bisa dibilang adalah sebuah bentuk pemakluman akan segala hal terkait manusia yang disayang. Dalam pemakluman ini terdapat keikhlasan, sikap merelakan, selama manusia yang disayang menemukan kebahagiaannya. Kasih sayang tanpa ekspektasi seperti ini jelas sudah langka sekali.

Bukannya orang tua mesti menjadi egois, namun kebahagiaan individu itu memang harus dijaga, jika belum dicapai maka harus dikejar. Kebahagiaan diri adalah pekerjaan rumah wajib setiap manusia yang akan memberikan dampak pada orang-orang terdekatnya, efek domino yang berbahaya sekali, sudah selayaknya dijaga agar tidak sampai kacau.

Manusiawi jika orang tua lupa menjadi suami istri ketika mereka telah memiliki anak. Awalnya sempat mengira memang sudah semestinya seperti itu, ketika menjadi orang tua sudah seharusnya mengalihkan seluruh fokus hidup pada anak tersebut. Sampai sebuah kalimat dari seorang teman yang baru saja menikahi kekasihnya menggeser pemikiran tersebut,

Kemarin waktu bimbingan pernikahan di gereja pendeta sempat bilang kalau dalam pernikahan kebahagiaan yang paling utama adalah suami dan istri, walaupun mereka telah memiliki anak sekalipun.

Ada sebuah jeda di antara kalimat tersebut dan reaksi otak saya.

Namun,

Tentu saja,
Tanpa kebahagiaan yang tulus dari ayah dan ibunya apa mungkin seorang anak dapat merasakan (mengartikan) apa itu kebahagiaan?

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

_

Malam, sepi, di antara awan ungu pembatas mimpi. 5 Desember 2013.

Saya mungkin belum merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, tapi saya adalah seorang anak yang melihat ibu saya menjalankan perannya dengan sepenuh hati di kala susah dan senang. Ketika akhirnya beliau berani melepaskan anak-anaknya untuk menjadi apa yang mereka mau, memilih, dan mengejar kehidupannya sendiri, saya pun sadar kalau beliau adalah ibu yang sangat berbahagia karena sedikit-sedikit telah melepas rasa kepemilikannya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers