Iklim

Yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Ditemani dengan meja dan kursi yang ergonomis sehingga tulang-tulang dan otot tidak cepat tegang kemudian lelah.

Kalau sedang dijepit dengan tenggat waktu cuaca tidak menjadi masalah, hujan atau panas akan tetap dihadapi karena tidak ada pilihan lain. Ketika waktu senggang itu datang iklim mendadak bisa menjadi masalah. Terlalu panas untuk bekerja di luar rumah atau terlalu mendung dan sejuk untuk berpikir.

Memang selalu banyak alasan kalau sedang tidak terhimpit tenggat waktu.

Kalau dari film Lucy waktu adalah satu-satunya satuan ukuran yang nyata di muka bumi. Tanpa waktu semuanya tidaklah berwujud. Jadi teringat hukum relativitas Einstein bahwa yang kita lihat sekarang ini bisa saja terlihat berbeda dari sudut pandang yang lain. Terlalu cepat jika dilihat dari Selatan namun lambat dari Barat. Jika otak ini dapat melihat dan merasa lebih dari kecepatan sang waktu maka bentuk-bentuk yang sekarang kasat mata itu pun hilang. Semuanya tembus pandang dan tidak lagi nyata. Indah ya?

Mungkin harus selalu terhimpit tenggat waktu agar otak dan tubuh ini rajin.

Kalaupun tenggat waktu itu sedang tidak ada alangkah baiknya dibuat sendiri. Agar otak dan tubuh merasa terus tertantang bukannya keenakan bersantai, duduk selonjoran di ruang tengah, nonton serial Girls ditemani teh hangat dan tahu isi, tidur siang, melamun di sore hari sambil melihat kaktus, berbaring menatap langit-langit, melihat timeline Instagram dua jam lamanya, dan berbagai kegiatan sejenisnya.

_

Malam Sejuk, 30 Oktober 2014

Goddess of Small Things

And the air was full of Thoughts and Things to say. But at times like these, only the Small Things are ever said. Big Things lurk unsaid inside. ~Arundhati Roy, The God of Small Things

I train myself to always get back on track.

Beberapa bulan terakhir rasanya seperti berjalan dalam kecepatan yang tidak bisa saya ikuti dengan kesadaran penuh. Terlalu tumpang tindih, semakin susul menyusul satu sama lain. Kadang waktu berangkat tidur dan menyambut pagi seperti terjadi dalam sekejap mata.

Saya merasa kehilangan aktivitas kesukaan saya: membekukan waktu. Jurnal hanya teronggok sia-sia, semakin jarang dibuka apalagi ditulis. Buku sketsa nasibnya kurang lebih sama. Yang selalu terisi hanyalah work note, padat to-do-list dan catatan-catatan yang dirasa penting.

Betapa ironisnya bahwa yang penting-penting itu hanya terasa penting di hari itu saja. Sementara yang akan terasa penting dalam jangka waktu yang lama tidak lagi sempat direkam, dibiarkan berlalu dan terlupakan.

Malam ini memutuskan harus lebih memaksa diri lagi untuk cermat menggunakan waktu, work note padat to-do-list itu memang harga mati tapi saya masih ingin membekukan momen dan rasa-rasa yang melewati hari. Mencatat, merekam, dan menggambarkan lagi.

Harus semakin efisien dengan waktu, lebih hati-hati mengiyakan sesuatu apalagi yang memakan waktu dengan sia-sia.

_

Malam Mantra, 29 Oktober 2014.

Religion

I’m a big believer in creativity as a combinatorial force — a great big puzzle you construct from existing pieces in your mental pool of resources. Which is why I strive to continuously highlight tidbits of interestingness and inspiration, in the hope that each of them lies dormant in your mind until, one day, it sparks some incredible new creation.

Quoted from Brain Pickings.

NATURAL

Saya percaya hal-hal dalam kehidupan akan baik hasilnya jika terjadi secara natural. Natural dalam arti berasal dari kesadaran yang tumbuh di dalam diri untuk memilih dan melakukan satu hal, bukan dari pengaruh atau dorongan orang lain. Misalnya:

  1. Menikah. Aktivitas ini besar sekali tanggung jawab dan juga beban moralnya. Siapa bilang menikah itu cuma bisa berbekal cinta? Menambatkan hati, kebahagiaan, dan kepercayaan kepada manusia lain tidak dapat dipungkiri berat sekali. Belum lagi proses meredam ego yang cenderung teriakannya semakin lantang seiring bertambahnya usia. Alangkah berbahagianya dua insan manusia yang memasuki bahtera rumah tangga bukan karena dorongan pihak lain atau kondisi (bisa berasal dari orang tua, sosial, ekonomi, dan rasa tidak percaya diri melajang terlalu lama). Menikah bagi saya adalah sebuah proses kebersamaan yang harus terjadi dengan natural, menjalani hidup berdua murni karena dorongan hati keduanya.
  2. Berkarya. Apapun bentuknya, menelurkan sesuatu yang belum pernah ada dari pikiran dan tanganmu bukanlah hal yang istilahnya “ecek-ecek”. Memulainya jelas lebih gampang dari pada mempertahankan diri dan pikir untuk terus menelurkan karya. Berkarya seringkali tidak memberikan keuntungan kapital kepada pembuatnya, jika pun mendapatkan biasanya harus melalui proses panjang dan melelahkan. Berkarya itu seperti cinta tanpa syarat, tidak mendapatkan cinta balasan pun tidak apa asal bisa melakukan, tidak ada yang memuji atau memperhatikan pun tidak apa asal bisa melakukan. Begitu murni tanpa embel-embel kapitalis yang sudah mengepung semua sisi kehidupan. Berkarya yang tulus adalah sebuah pilihan yang mahal sekali. Bagus atau jelek hasilnya, itu persoalan lain.
  3. Bersuara. Entah ideologi, opini, atau pilihan yang muncul karena dorongan dari hati, ibarat mendapatkan sebuah hidayah, titik terang yang membuat seseorang melakukan sesuatu untuk mendukung pemikiran atau pilihannya. Jika dikaitkan dengan situasi sekarang, adalah memilih pemimpin negara. Politik tidak pernah terasa menarik bagi saya hingga masa ini tiba, ketika kemunculan seorang manusia yang bisa “bekerja” dan berasal dari “rakyat” menjadi calon puncak segala pemimpin. Setelah era kegelapan yang demikian panjang, pucuk harapan itu tumbuh kembali di dalam hati. Harapan kalau pada akhirnya ada yang benar-benar “bekerja” sebagai pemimpin dan siap membangunkan negara ini beserta isinya dari tidur yang panjang. Mungkin ada yang menganggap apalah arti pergerakan seorang, dua, atau tiga orang rakyat? Ibarat kepakan seekor kupu-kupu kecil di antara kibasan sayap elang. Bukankah lebih baik jadi kupu-kupu kecil yang bergerak daripada tidak melakukan apa-apa? Cuma ada dua pilihan: kemunduran atau kemajuan. Saya memilih maju.

    “It has been said that something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world.” ~Chaos Theory

_

Jakarta, 8 Juni 2014.

Catatan tambahan:
Beberapa hari lalu membaca ini: “Siapapun Presidennya kamu tetap mencari uang dan makan sendiri.“, sungguh miris. Sebuah kalimat pembodohan massa, tidak paham efek domino dan hukum sebab akibat. Semua hal dari yang besar hingga kecil dimulai pada sebuah titik, saling terkait, mempengaruhi satu sama lain. Bersuaralah jika kamu percaya itu memang untuk kemajuan.

Bandung, 16 April 2014

(Waktu baca 2 – 3 menit)

Tadi siang saya jalan kaki dari penginapan saya di jalan Riau menuju jalan Veteran. Saya hanya membawa tote bag berisi kamera, buku Semua Anak Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer, laptop, dan dompet. Perut berisik, sudah keruyukan karena sejak pagi baru diisi satu gelas kopi Torabika Mocca dari buffet penginapan. Saya yang memang dari kemarin sudah hanyut dalam romantisme masa lalu dengan kelezatan batagor Kingsley langsung berjalan mantap menuju lokasi.

Setelah menghabiskan satu porsi batagor seharga Rp 30,000 saya berdiri di pinggir jalan menatap deretan mobil yang mulai padat sambil mencoba mengingat rute angkot menuju kawasan Balubur. Sayangnya saya lupa, pengalaman delapan tahun silam tinggal di kota ini sudah hilang dari ingatan.

Saya jalan kaki lagi menuju jalan Sunda karena seingat saya banyak rute angkot yang melewati jalan tersebut. Beruntung saya melihat angkot Kelapa – Dago, saya menyetop, naik, dan mengambil posisi duduk di sudut. Berhenti di perempatan apotek Kimia Farma saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, pedestrian jalan di kota Bandung memang tidak jauh lebih baik dari pedestrian di Jakarta (yang bolong sana sini) tapi cuacanya luar biasa menyenangkan dan tidak mengacaukan pikiran, sungguh membuat hati senang.

Tiba-tiba saya kebelet pipis, sungguh momen yang tidak pas karena lagi meresapi enaknya jalan kaki. Saya cepat-cepat berjalan ke kompleks pertokoan Balubur mencari toilet. Selesai dari situ saya langsung menuju lokasi revitalisasi lapangan Bawet oleh Rumah Cemara yang terletak di bawah jembatan Pasupati. Pelan-pelan saya menelusuri turunan yang sangat berangin, layaknya area di bawah jembatan terdapat pemukiman penduduk yang padat di sepanjang jalan. Saya terus berjalan, ada semacam rasa bebas yang luar biasa mahal pelan-pelan merambat di hati. Bahwa di hari ini, hari Rabu, setahun yang lalu masih saya isi dengan duduk di belakang meja atau melakukan wawancara dengan seorang desainer interior di restoran yang bersih mengkilat atau menyelesaikan deadline artikel, namun hari ini saya sedang berjalan kaki dan melihat situasi yang mendominasi keadaan masyarakat negeri ini.

Sambil melawan angin saya terus berpikir tentang Pramoedya Ananta Toer, akhir-akhir ini ada semacam pertanyaan yang otomatis muncul di kepala setiap kali menyaksikan peristiwa yang membuat tergelitik, “Apakah yang akan dipikirkan oleh seorang Pram?”.

Kadang pertanyaan tersebut terasa sangat menyiksa otak saya. Karena jawabannya selalu sama, berpijak ke tanah, mencium dalam-dalam aroma yang ada di sekeliling, sentuh apa yang ada di hadapanmu, di situ, saat itu juga! Bukannya terbang di atas awan, melihat yang hanya ingin dilihat, mencium aroma yang disukai saja. Sungguh, untuk pemimpi seperti saya itu bukanlah hal yang mudah. Harus turun, turun ke bumi!

Sampai di lokasi, teman yang ingin saya temui belum sampai. Saya duduk di pembatas jalan dan mengambil Semua Anak Bangsa dari dalam tas, melanjutkan kembali bacaan yang tidak kunjung selesai. Minke, Nyai Ontosoroh, dengan semua masalah dan kepandaian mereka kembali membius saya perlahan. Ada sebuah cara magis dari Pram untuk menyuntikkan ideologi yang ia pegang ke dalam otak pembacanya, melalui fiksi! Sungguh, seseorang yang pandai menulis dan tahu apa yang harus ia tulis memang sangat berbahaya. Saya tenggelam lagi ke dalamnya, seperti biasa. Teman yang ditunggu akhirnya datang. Teman yang setiap berbicara dengannya membawa saya mencium bau tanah dalam-dalam, mengingatkan kalau aroma langit yang penuh impian memang menyenangkan tapi berpijaklah yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Senang dengan kehadirannya, saya langsung meletakkan buku tersebut dengan rasa tidak sabar ingin melanjutkannya kembali.

Kami duduk, berbincang di tengah terpaan angin dan dera tawa anak-anak kecil bermain di tanah kosong sebelah lokasi revitalisasi. Di tengah obrolan ia menunjuk seorang laki-laki yang memakai ransel besar berwarna hitam. Katanya laki-laki itulah yang mendirikan Rumah Cemara. Sosoknya tidak terlalu besar namun mantap memijak tanah. Rasa hormat otomatis muncul di dalam hati saya, hal yang pasti terjadi setiap kali melihat individu yang melakukan sesuatu dengan melepaskan kepentingan dirinya sendiri. Jarang dan sungguh berharga, yang biasanya disusul dengan rasa malu di dalam diri, kenapa mesti menjadi individu yang masih saja egois dan terlalu banyak memikirkan kepentingan sendiri atau estetika tidak berarti.

Dia mendekati kami berdua, saya berkenalan. Senyumnya sungguh lebar, kulitnya penuh tato, menyembul keluar dari tubuhnya yang mengenakan kaos tanpa lengan dan celana hitam selutut. Dia berkata dalam bahasa Sunda yang hanya bisa saya artikan sepotong-sepotong, sebelum akhirnya berbicara dalam bahasa Indonesia. Aura dirinya sungguh menyenangkan membuat betah berbincang lama-lama. Dia bertanya ramah apakah saya orang Bandung juga dan kami ngobrol ini dan itu, mudah sekali berbicara dengan orang ini. Dia bercerita tentang perjalanannya jalan kaki dari Bandung ke Jakarta, semacam kaul karena sebuah pencapaian. Orang yang sendirian berjalan kaki sejauh itu selama tiga hari dua malam tentunya seseorang yang jiwanya bebas seperti burung di angkasa. Begitu impulsif dan puitis. Tidak mungkin bisa terikat oleh kemapanan yang semu atau kenyamanan kapitalisme yang bersifat utopis.

Saya menyerap dalam-dalam aroma kebebasan yang keluar dari tubuhnya dan aura teman saya, berharap ditularkan semangat dan kemerdekaan mereka dalam berpikir dan berbuat. Dalam hati berdoa, berharap satu hari nanti kebebasan, rasa tidak terikat oleh materi, dan matinya sifat egosentris secara natural juga akan terjadi di dalam diri saya.

Dan catatan hari ini akan saya tutup dengan begini saja, seperti biasa.

Tagged ,

Tirani*

(Waktu baca: 2 – 3 menit kalau selewat, 4 – 5 menit jika serius)

Kelamin yang sama atau berbeda rasanya tidak ada bedanya. Sama-sama ada yang lebih dominan, sama –sama ada yang menjadi pihak dikuasai. Hubungan itu seperti sebuah sistem tirani dengan kuantitas penduduk yang sangat kecil, hanya dua orang. Namun tetap saja ada yang menjadi raja dan dayang dalam tirani kecil tersebut. Untuk mencapai sebuah kesetaraan berdasarkan hukum demokratis, sungguh sulit.

Dibutuhkan kestabilan di dalam tirani tersebut, idealnya tanpa fluktuasi yang mana tidak mungkin terjadi. Harus selalu ada yang mengalah, selalu. Manusia selalu berubah. Dari seorang tikus tiba-tiba menjadi seekor macan. Dari seorang keledai tiba-tiba menjadi gajah. Dari seorang burung elang tiba-tiba menjadi ular cobra. Berganti-ganti menyesuaikan elemen-elemen luar dirinya yang menyusup ke dalam jiwa. Tirani ini mesti dijaga dengan keras, dengan sebuah gerbang tinggi dan pengawalan super ketat. Jangan izinkan siapapun di luar tirani untuk masuk ke dalam, entah untuk mengutarakan pendapat atau sekedar mencicipi daya tarik seksual yang dikeluarkan entah siapa di antara dua manusia di dalamnya.

Bingung?

Cobalah berpikir seperti ini.

Mata yang bisa melihat. Dari ujung langit hingga goa yang tergelap. Melihat manusia-manusia lalu lalang di hadapan mata. Lalu tangan yang merasa. Bersalaman dengan mereka yang baru muncul entah dari mana, setiap hari, setiap saat, setiap waktu. Melihat lalu menyentuh tangannya, mengucapkan “Halo apa kabar? Namamu siapa?”

Semua terjadi di luar gerbang tirani tersebut, orang-orang baru, yang bisa saja terlihat lebih menarik, lebih baik, lebih manis, lebih pasrah daripada pasangan tirani di balik tembok tinggi yang dijaga ketat oleh serigala dan naga dari negeri China yang sudah runtuh ke dalam neraka. Sudah jelas terlihat bukan berarti sudah teruji namun sudah dituliskan kalau manusia mudah takluk dengan apa yang dilihatnya.

Timo tidak paham dengan kebahagiaan.

Sejak lahir ia tidak pernah melihat kebahagiaan.

Setiap kali berhubungan dengan seorang perempuan otomatis ia berpikir, “Apa yang kira-kira akan mengakhiri ini?” mengakhiri tirani-tirani yang terbentuk atas kebutuhan kelamin yang telah terbiasa disentuh dan diusap dan dipuaskan. Apakah kebosanan, kecemburuan, atau harapan yang tidak sesuai?

Kebosanan jarang datang karena manusia di hadapan, semakin dikupas ke dalam makin terlihat sumber kepedihan yang lalu bermuara pada rasa bosan. Pedih akan hal-hal yang telah lalu atau harapan sesungguhnya akan hidup, yang lebih banyak tidak terwujud.

Kekecewaan itu seperti luka-luka yang ditutupi oleh kulit luar, halus, tidak terlihat padahal ada yang hampir menjadi luka borok bernanah di dalam, mengeluarkan bau busuk yang sengit. Merusak sel-sel kehidupan yang bermukim di dalamnya. Timo, tidak pernah menemukan perempuan bahagia cukup menarik untuk menemani hari-harinya. Mereka yang berbahagia seringkali terasa sangat membosankan, apalagi yang munafik pura-pura bahagia. Menutupi luka-luka boroknya dengan tawa dan obrolan yang bersifat permukaan saja. Berbeda dengan mereka yang dengan berani menghadapi luka-luka dan menghirup bau nanah yang bermukim di rongga-rongga kosong tubuhnya, mereka yang kenyang mencicipi kehidupan, berani menghadapi, walau harus terpelanting entah kemana lalu terseok-seok kembali ke jalan yang sedang dilewati.

Borok tersebut daya tarik bagi Timo, semakin besar dan busuk borokmu maka ia akan semakin ingin mengupas lebih dalam. Ia nikmati proses menelan nanah tersebut pelan-pelan melalui obrolan-obrolan panjang melewati tengah malam, melalui aktivitas saling meraba, dan memasuki tubuh setelahnya. Seks dan berbicara itu sama. Berbicara menukarkan energi melalui kalimat sedangkan seks melalui sentuhan, ada sepenggal diri yang akan ditinggalkan di tubuh orang lain setelah selesai melakukan hubungan seksual. Dan ada sepenggal dirinya yang ditinggalkan juga di dalam tubuh Timo. Kadang-kadang seperti alien yang berkunjung, asing namun magis, atau hama yang tinggal dan merusak, atau kumbang yang berdengung bising namun menerangi. Karena itu juga manusia yang tengah berhubungan cenderung menjadi mirip dengan pasangannya apalagi jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Dua manusia ini tanpa sadar telah melakukan pertukaran energi dan diri. Melalui relung-relung hati turun ke perut lalu keluar dari kelamin, menyebar ke hati, otak, dan seluruh sel darah pasangannya. Mempengaruhi cara pandang, memilih, dan berpikir.

_

*) Sebuah penggalan dari proyek yang telah lama dikerjakan, dibongkar, dan disusun kembali sejak tahun 2011. Semoga, idealnya akan menghirup udara kehidupan di tahun ini.

Because life is too short to focus on one single thing

(Waktu baca: 2 – 3 menit)

“YOU have to hit the ground running,” the artist Kiki Smith said recently, referring to her process. “You have to have multiple things happening, so you’re not just standing around.” It’s hard to imagine this is much of a risk for Ms. Smith, 56. So far this year, at least, she has hardly stood still.

Ketika saya membaca pembukaan dari sebuah artikel yang mengulas tentang Kiki Smith, saya mengalami apa yang saya sebut instant like pada seniman perempuan ini. Menelusuri karya-karyanya, latar belakang, definisinya atas karya, dan aktivitas yang ia lakukan rasanya seperti menemukan sebuah potongan puzzle yang hilang, sebuah pembenaran atas pendapat yang sudah lama ada di dalam kepala saya, bahwa hidup memang terlalu singkat dan berharga untuk diisi dengan melakukan satu hal yang sama. Tidak banyak yang membenarkan pendapat saya ini, sebenarnya lebih karena zaman yang tidak lagi pro dengan cara Renaissance — hampir tidak ada lagi manusia yang pantas digolongkan sebagai seorang Polymath atau Renaissance Man seperti Leonardo Da Vinci dan Michelangelo. Well.

Penjelasan mengenai Renaissance ideal adalah mereka yang memiliki sikap Sprezzatura:

A courtier should have a detached, cool, nonchalant attitude, and speak well, sing, recite poetry, have proper bearing, be athletic, know the humanities and classics, paint and draw and possess many other skills, always without showy or boastful behavior, in short, with “sprezzatura”.

Bukannya saya mengatakan bahwa yang saya lakukan menyerupai mereka yang hidup di era pergerakan Renaissance, persamaannya hanya terletak pada diversity-nya, sejak dulu saya tidak bisa melakukan satu hal yang sama terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Saya membutuhkan aktivitas lain sebagai distraksi — dalam arti denotatif keberadaan distraksi tersebut membuat saya memiliki fokus serta endurance yang usianya lebih panjang. Lucu memang ketika distraksi justru membantu saya untuk menyelesaikan sesuatu.

Tentu saja dalam deretan aktivitas yang saya lakukan ada satu pemeran utama, yang mendapat porsi fokus paling banyak, menempati skala prioritas tertinggi. Distraksi otomatis mengalah ketika pemeran utama sedang demanding, membutuhkan energi dan alokasi waktu banyak. Mereka ada untuk dikalahkan, memenangkan pemeran utama, karena sejak awal keberadaan mereka lebih kepada support system pada pemeran utama. Sejak akhir tahun 2012 hingga sekarang secara tidak sadar (dan sadar) saya melakukan beberapa profesi sekaligus sebagai seorang ilustrator, seniman, editor, interior stylists, penulis, dan (bahkan) panitia penyelenggara sebuah art event *LOL*. Pada akhir tahun 2013 hingga sekarang daftar aktivitas mengalami penambahan lagi yaitu sebagai visual merchandiser. Tahun-tahun sebelumnya tidak perlu dibahas karena racikan profesi yang saya lakukan jauh lebih ajaib lagi.

Pemeran utama dari deretan aktivitas tersebut adalah visual, ilustrasi, dan seni karena mereka adalah cinta pertama saya dan rasanya bisa berlangsung untuk selamanya. Benang merah dari hal-hal lain yang saya lakukan: kreasi. Yang sifatnya membuat sesuatu dari nol, merancang, dan mewujudkan hal yang tadinya hanya berbentuk ide. Tentu saja ada dampak negatif yang seringkali muncul, yaitu ketika jadwal ideal yang sudah disusun bergeser dari tempatnya, beberapa aktivitas yang seharusnya tidak bertabrakan malah bertemu dalam kurun waktu yang sama. Lelah dan hasil yang terasa kurang maksimal adalah akibat yang harus ditanggung, ketidakpuasan atas hasil ini biasanya membawa saya ke niat untuk lebih fokus. Kalimat “Berhenti banyak mau!” berteriak berulang-ulang di dalam kepala seperti palu godam. Namun hal yang terjadi kemudian bisa ditebak, pelan tapi pasti saya kembali melakukan beberapa hal sekaligus, lagi dan lagi. Karena dengan cara itu saya memang merasa lebih “hidup”.  Hingga di satu titik saya pun pasrah dengan sifat saya yang satu ini, tugas saya adalah mencari strategi dan cara bekerja yang memang dapat mengakomodir semuanya dengan lebih baik.

Adalah sebuah masa di mana saya melepaskan ingin yang banyak itu lalu melakukan hal yang sama terus menerus, turunan dari pilihan ini adalah saya bertemu dengan orang-orang yang serupa, beraktivitas di lokasi yang itu-itu saja, dan membicarakan topik yang sama. Lambat laun saya merasa sesak nafas, seperti kembeli dicekik dengan keharusan untuk melakukan, rasanya serupa dengan titik hidup saat saya bekerja 9-5 di bidang yang tidak saya minati beberapa tahun yang lalu. Pelan-pelan saya pun bergerak keluar mencari distraksi lain yang membuat saya bertemu dengan mereka yang memiliki fokus serta pemikiran berbeda, membicarakan hal-hal lain, tertawa atas lelucon yang belum pernah saya dengar sebelumnya dan saya pun bisa kembali bernafas. Hal-hal di luar pemeran utama itu biasanya secara tidak terduga membawa pencerahan atas pemeran utama, angin segar yang tidak diduga-duga, dan yang paling penting menjauhkan rasa bosan atasnya.

Kembali lagi kepada pilihan.

Ini adalah bentuk kehidupan yang sesuai dengan diri saya, keberadaan seorang pemeran utama dan beberapa distraksi adalah kebutuhan pokok saya untuk terus bergerak. Bukan berarti konsep ini adalah konsep yang paling benar, sebab bentuk kehidupan sifatnya sangat organik dan lentur, sudah menjadi job desc-nya untuk menyesuaikan dengan setiap manusia sebagai carrier-nya. Kembali ke manusianya lagi apakah memang mau mencari bentuk kehidupan yang sesuai baginya atau tidak. Ada banyak trial and error dalam pencarian tersebut, kurang lebih sama seperti proses pencarian pasangan hidup :)

Sekarang pun saya masih dalam pencarian tersebut, karena sepanjang nafas masih mengisi tubuh, ada kesadaran hidup memang harus terus bergerak dan tumbuh.

Sebagai penutup tulisan ini saya ingin mengutip sebuah kalimat Austin Kleon dari bukunya “Steal Like an Artist“:

If you have two or three real passions, don’t feel like you have to pick and choose between them. Don’t discard. Keep all your passions in your life. Let them talk to each other. Something will happen.

So, be it. Be alive.

_

Bandung, 16 April 2014.

Illustration

The word ‘illustration’ is one I don’t actually like a lot; it suggests something derivative, a visual elaboration of an idea governed by text. In ‘fine arts’ discourse you often find the term used in a derogatory sense, almost in opposition to serious drawing or painting; something is ‘mere illustration’. That is, somewhat slavish or incapable of self-contained meaning; it can only be descriptive.

~Shaun Tan

That’s why I prefer to use word “drawing” rather than “illustration”. Illustration is a complement. Why you born into this world to make complement for others work?

kalender baca 2014

KALENDER BACA 2014 sm

Click image for full preview

Terinspirasi (sekali) dengan postingan benzbara soal kalender baca 2014 di sini saya pun tanpa banyak berpikir langsung ikutan membuat. Yang menyenangkan dari membuat kalender ini adalah jadi lebih tahu pemetaan buku-buku yang sedang menarik minat saya saat ini dan bisa lebih fokus soal anggaran belanja buku.

Kalau kalender baca 2014 versimu seperti apa?

Tagged

pelajaran-pelajaran dari kurikulum 2013

  1. Tidak perlu berteman atau bersahabat atau berdiskusi dengan semua manusia yang kamu kenal. Memilih itu bukan berarti menjadi picky tapi tahu betul apa yang kamu perlukan dan berdampak baik untuk pikiran dan ideologi sebagai seorang manusia.
  2. Fiksi itu menggugah dan menginspirasi namun buku-buku non fiksi yang ditulis oleh mereka yang berpikiran terbuka, kritis, dan tajam ternyata terasa mengaktifkan bagian otak yang selama ini hanya terlelap atau sibuk melayang di alam mimpi. Waktunya lebih berpijak ke tanah, melihat dan membaca hal-hal yang memang benar-benar terjadi.
  3. Waktu dan energi begitu berharga alangkah baiknya untuk lebih cermat memilih dan memilah aktivitas apa saja yang akan menggunakan keduanya. Lebih keras lagi atas penggunaannya!
  4. Pendapat dan opini setiap orang akan ada yang berseberangan tidak akan pernah sama. Dan kebenaran itu sifatnya relatif tergantung dari sudut mana memandangnya. Pondasi harus kuat, prinsip harus matang agar tidak mudah terbawa arus pendapat dan opini yang sebenarnya tidak sesuai. Sembari tetap menjaga kelenturan agar tetap bisa menerima hal-hal di luar diri yang sifatnya untuk kebaikan.
  5. Bersenang, bersantai, dan liburan itu perlu sekali untuk mental yang sehat namun tidak perlu sampai mendominasi ingin dan hari. Karena sesungguhnya jika melihat ke dalam diri sudah terlalu banyak PR yang ditunda dan belum selesai. Ketinggalan tersebut berbeda-beda tergantung individunya. Adalah tugas masing-masing juga untuk menemukan cara mengejar ketinggalannya.
  6. Berkata tidak dan menolak bukanlah bentuk membatasi diri namun lebih ke perwujudan lebih “mengenal diri”. Mengenal batasan-batasan diri yang dimiliki atas waktu, energi, dan keinginan. Jika tahu tidak akan menikmati sebuah ajakan atau undangan tidak ada salahnya menolak. Tentunya dengan cara yang baik dan masuk akal.
  7. Batasan, aturan, dan semestinya harus bagaimana tidak selalu berlaku. Batasan adalah sesuatu yang dibuat oleh manusia sehingga sifatnya tidak mutlak. Kebaruan selalu diperlukan selama mau mencari jalannya dan tidak sibuk membatasi diri.
  8. Bekerja mencari uang adalah mutlak hukumnya. Harus mampu menghidupi diri sendiri tanpa memberatkan orang lain. Setiap kita dapat mencapai kebebasan hidup apabila dapat menghidupi dan bertanggung jawab atas semua hari yang dilewati. Namun bekerja dalam taraf kesibukan yang membuat sulit berpikir, memilih, dan membuat sesuatu (baca: berkarya) sebaiknya dtinjau kembali. Kesibukan yang berlebihan tanpa memberi makanan bagi jiwa cenderung menyeret seseorang untuk mencari sumber kebahagiaan semu dan bersifat sementara atas nama penyegaran jiwa atau otak. Sudah semestinya setiap kita memiliki bentuk mencari uang yang sesuai bagi aktualisasi diri, cukup untuk menghidupi, dan tentu saja sehat bagi jiwa.
  9. Menulislah, karena dengan menulis kemampuan untuk mengungkapkan ide dan pendapat akan membaik, pertumbuhan cara berpikir akan terekam dengan seksama. Menulis juga merupakan sebuah aksi nyata untuk mengosongkan pikiran dengan hal-hal yang tidak disadari sudah ketinggalan zaman dan kaku dengan yang bersifat baru. Terus perbaharui pikiran dengan menulis. Tidak perlu menulis yang penting bagi orang lain, selama yang ditulis itu terasa penting bagi diri sendiri.
  10. Bekerja dan berkarya layaknya seorang seniman tulen. Dalam hal ini percaya pada idenya sendiri dan selalu mencari jalan untuk mewujudkannya. Di atas itu semua upayakan untuk menjaga kejujuran dalam membuat sesuatu. Segala sesuatu yang keluar dari otak dan kedua tangan merupakan hasil kontemplasi yang sakral, sudah sewajarnya bebas dari pretensi dan intensi semu yang bersifat permukaan belaka.
  11. Segala wadah sosial yang terdapat di internet adalah sebuah “alat” semata, sebaiknya tetap diposisikan sebagai alat bukan bagian dari diri. Jika digunakan untuk menyebarkan hal-hal yang baik lambat laun akan terasa membawa kebaikan atau perubahan. Diam bukan lagi sebuah sikap yang baik di masa sekarang ini. Namun bicara yang isinya hanya sampah juga sebaiknya dihindari.
  12. Perasaan memiliki Tuhannya sendiri. Tuhan logika kadang diam karena Tuhan perasaan selalu lebih lantang berbicara, membuat seorang manusia kadang melakukan hal-hal yang jika ditilik secara logika sungguh tidak masuk akal. Namun ketika bertemu di tengah-tengah Tuhan logika dan Tuhan perasaan itu sepakat bahwa memang ada beberapa orang dan hal yang patut diperjuangkan, tentu saja dengan keberanian menghadapi resikonya.

Jakarta, 31 Desember 2013

-

Awalnya tulisan ini hanya untuk pengingat di jurnal personal saya, namun ketika saya baca ulang hal-hal yang terkandung di dalamnya terasa begitu umum sehingga saya memutuskan untuk menuliskannya di sini. Tanpa harapan tertentu atau intensi apa-apa. Sesederhana ingin berbagi sepenggal pemikiran sok tahu saya (atas diri saya sendiri) di hari terakhir tahun 2013 yang lahir atas rentetan peristiwa, obrolan, renungan, dan bacaan sepanjang tahun 2013.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers

%d bloggers like this: